Cara Menentukan Awal Puasa Ramadan

Cara Menentukan Awal Waktu Puasa Ramadan

Berpuasa di bulan Ramaḍan merupakan salah satu ibadah yang sangat sakral dan merupakan salah satu rukun Islam. Menjelang datangnya bulan Ramaḍan, sebuah permasalahan yang sering diperdebatkan oleh masyarakat muslim adalah terkait bagaimana kita menentukan awal puasa Ramaḍan dan juga menentukan akhirnya sekaligus menentukan awal Syawal. Dalam hal ini, masyarakat kita terbagi menjadi dua kelompok, karena ada dua metode yang dipakai oleh masyarakat Indonesia dalam menentukan awal bulan, yaitu rukyat (melihat) hilal, dan metode hisab.

Jasa Pembuatan Website
Jasa Pembuatan Website

Masing-masing metode ini dipakai oleh dua ormas besar Islam di Indonesia, disamping juga ormas-ormas lainnya. Ormas Nahdatul Ulama (NU) memakai metode rukyat, sehingga sampai saat ini Lajnah Falakiyah PBNU belum menetapkan awal Ramaḍan 1442 H. Mereka masih menunggu hasil rukyat yang akan dilakukan pada sore hari Senin mendatang (12/4/2021), meskipun mereka memprediksi bahwa awal Ramaḍan 1442 H akan jatuh pada hari Selasa.

Sementara itu, ormas Muhammadiyah memakai metode hisab, sehingga untuk tahun 2021 M ini, mereka sudah menetapkan awal Ramaḍan 1442 H jatuh pada hari Selasa, 13 April 2021 M, dan awal Syawal 1442 H jatuh pada hari Kamis, 13 Mei 2021 M, sebagaimana tertuang dalam maklumat Pimpinan Pusat Muhammadiyah nomor 01/MLM/I.0l/E/2021.

Dari kedua cara tersebut, manakah cara terbaik yang dilakukan untuk menentukan awal puasa Ramaḍan?

Karena puasa Ramaḍan adalah sebuah ibadah, maka untuk menentukan metode mana yang terbaik untuk menentukan awal puasa adalah dengan melihat dalil-dalil yang ada terkait perintah pelaksanaan puasa tersebut serta pandangan para ulama dalam memahaminya.

Metode Rukyat

Metode rukyat adalah cara mengetahui awal bulan dengan melihat hilal secara langsung dengan menggunakan mata atau dengan bantuan alat seperti teleskop atau lainnya, tetapi tetap dilihat dengan mata manusia. Melihat bulan tersebut dilakukan sore hari ketika matahari terbenam pada tanggal 29 setiap bulannya

Para ulama sepakat bahwa menggunakan metode rukyat ini merupakan cara yang sah dalam menentukan awal bulan Ramaḍan. Tidak ada ulama yang menentang keabsahan penggunaan metode ini dalam menentukan awal bulan Ramaḍan, ataupun awal bulan-bulan lainnya. Jadi ini sudah menjadi ijmak ulama Islam. Hal ini telah disampaikan oleh para ulama dari empat mazhab fikih yang terkenal, di antaranya: Al-Kasani Al-Hanafi dalam kitab Badāi’u Aṣ-Ṣanāi’ (2/80), Ibnu Abdilbar Al-Maliki dalam kitab Al-Kāfi (1/334), An-Nawawi Asy-Syāfi’i dalam Rauḍatu Aṭ-Ṭālibīn (2/345), dan Ibnu Qudāmah Al-Hanbali dalam Al-Muqni` (62).

Pendapat ini berdasarkan beberapa hadis yang memberikan petunjuk untuk berpuasa berdasarkan rukyat hilal, dan kalau seandainya hilal tidak bisa dilihat karena cuaca mendung, berawan, ataupun penyebab lainnya, maka kita diperintahkan untuk menyempurnakan bilangan hari bulan Syakban menjadi 30 hari. Di antara hadis tersebut sabda Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam yang artinya, “Jika kalian melihatnya (hilal Ramaḍan) maka berpuasalah, dan jika kalian melihatnya (hilal Syawal) maka berbukalah (berlebaranlah). Jika kalian terhalang (melihatnya) maka perkirakanlah.” (HR. Bukhari: 1801, Muslim: 1081). Dalam hadis lainnya disebutkan, “Berpuasalah karena melihatnya (hilal Ramaḍan), dan berbukalah (berlebaranlah) ketika melihatnya. Jika kalian terhalang (melihatnya) maka sempurnakanlah bilangan Syakban 30 (hari).” (HR. Bukhari: 1810).

Para ulama menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan “perkirakanlah” dalam riwayat pertama adalah menyempurnakan bilangan hari bulan Syakban menjadi 30 hari sebagaimana dijelaskan oleh hadis yang kedua. Hal ini diperkuat oleh hadis yang diriwayatkan dari Ibunda kita Aisyah raḍiyallāhu ‘anhā yang artinya, “Rasulullah ṣallallāhu ‘alaihi wasallam sangat perhatian dengan hilal bulan Syakban dibandingkan dengan bulan-bulan lainnya, kemudian beliau berpuasa karena melihat hilal Ramaḍan. Jika beliau terhalang untuk melihatnya maka beliau menghitung (bulan Syakban) 30 hari, kemudian beliau berpuasa.” (HR. Ahmad: 25161, Abu Daud: 2325, Ibnu Hibban: 3444, dan lainnya)

Metode Hisab

Metode hisab adalah cara untuk mengetahui awal bulan (hilal) dengan menghitung perjalanan bulan di orbitnya untuk menentukan waktu pertemuan dan perpisahannya dengan matahari, menghitung kemungkinan hilal tersebut bisa dilihat atau tidak, jauh jarak antara bulan dan matahari, rentang waktu hilal berada di ufuk, dan lain sebagainya, sehingga dengan demikian bisa diketahui kapan awal bulan qamariah.

Para ulama berbeda pendapat terkait keabsahan penggunaan metode hisab untuk menentukan awal bulan. Setidaknya ada lima pendapat dalam hal ini. (Lihat: Al-Jāmi’ Li Ahkāmi Aṣ-Ṣiyām, Khalid Al-Musyaiqih: 1/347-348)

  • Jumhur ulama (dari ke empat mazhab) berpendapat bahwa metode hisab tidak sah dipakai untuk menentukan awal bulan.
  • Sebagian ulama mazhab Hanafi menyatakan hisab tersebut berlaku untuk ahli hisab sendiri jika dia tidak bisa melihat bulan. Jadi, ketika dia sudah berhasil menghitungnya dan bulan belum kelihatan secara rukyat, maka orang tersebut harus berpuasa.
  • Imam Subki dari mazhab Syafi’i membolehkannya khusus untuk bulan puasa saja, dengan syarat penghitungan dilakukan oleh orang yang ahli dan dia bisa mendapatkan hasil penghitungan secara jelas, tanpa ada keraguan.
  • Sebagian ulama mazhab Syafi’i menyatakan bahwa hisab berlaku bagi ahli hisabnya dan juga orang-orang yang bertaklid (mengikuti) pendapatnya.
  • Syekh Ahmad Syakir berpendapat bahwa metode hisab sah secara mutlak dipakai untuk menentukan awal bulan.

Berdasarkan dalil-dalil yang ada dan pendapat ulama terkait metode penentuan awal bulan secara umum dan awal puasa secara khusus, maka dapat kita tarik kesimpulan bahwa penentuan awal puasa dengan metode rukyat adalah cara terbaik yang bisa dipakai, karena semua ulama mengakui keabsahannya, sementara metode hisab banyak ditentang oleh para ulama mazhab. Terlebih lagi cara tersebut tidak dipakai oleh generasi awal Islam, padahal di zaman mereka orang-orang sudah mengerti ilmu perbintangan dan banyak orang yang sudah ahli dalam menghitung peredaran bulan tersebut.

Meskipun demikian, metode hisab tersebut bisa dipakai untuk membantu metode rukyat dalam memperkirakan waktu melihat hilal, posisinya, dan juga kemungkinan apakah bulan tersebut mungkin untuk dilihat pada sore hari tanggal 29 setiap bulannya, dan lainnya. Tapi metode ini tidak dijadikan sebagai acuan utama dalam menentukan awal bulan tersebut.

Keputusan Penentuan Awal Ramaḍan

Berhubung karena puasa ini merupakan ibadah yang bersifat umum dan tidak semua orang bisa melakukan rukyat hilal ataupun hisab, serta untuk menjaga persatuan umat Islam, maka sebagai umat Islam yang baik, seluruh kaum muslimin seharusnya mengikuti keputusan yang ditetapkan oleh pemerintah atau pejabat berwenang yang ditunjuk oleh pemerintah dalam penentuan awal Ramadan dan Idul Fitri, terlepas dari kecenderungan kita masing-masing untuk mengikuti metode yang lebih pas menurut kita pribad.

Untuk negara-negara timur tengah, penentuan awal bulan puasa tersebut diputuskan oleh Mahkamah Agung (MA) mereka yang sebelumnya telah menunjuk beberapa tim untuk melihat hilal di tempat-tempat strategis. Ketika ada tim yang melaporkan bahwa mereka melihat hilal setelah matahari terbenam, maka MA akan mengumumkan bahwa puasa Ramaḍan akan dimulai hari esoknya. Kalau tidak ada tim yang melihat hilal, maka MA akan memutuskan bahwa mereka akan menyempurnakan hitungan hari bulan Syakban menjadi 30 hari sebagaimana dijelaskan dalam hadis Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam.

Sementara untuk Indonesia, keputusan penentuan awal Ramaḍan diambil oleh Kementrian Agama melalui sidang isbat yang dilakukan pada malam hari tanggal 29 Syakban setelah mendengar laporan dari tim yang melihat hilal di berbagai tempat dan masukan-masukan dari ormas yang diundang dalam sidang tersebut.

Semoga saja puasa Ramaḍan tahun ini bisa dilakukan secara serentak oleh masyarakat Indonesia.

Berlanggan Artikel Mutiara Dakwah

Berlangganlah secara gratis untuk mendapatkan email artikel terbaru dari situs isi.

Artikel Terkait

Tambahkan Komentar