Hukum Berkurban Secara Kolektif

7 menit waktu membaca

Daftar Isi

Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad ﷺ, keluarga, para sahabat dan orang-orang yang meniti jalan mereka hingga akhir zaman.

Hewan yang digunakan untuk sembelihan kurban adalah unta, sapi[1], dan kambing. Bahkan para ulama berijma’ (bersepakat) tidak sah apabila seseorang melakukan sembelihan dengan selain binatang ternak tadi.[2]

Ketentuan Kurban

Ketentuan Kurban Kambing

Seekor kambing hanya untuk kurban satu orang dan boleh pahalanya diniatkan untuk seluruh anggota keluarga meskipun jumlahnya banyak atau bahkan yang sudah meninggal dunia.

كَانَ الرَّجُلُ فِي عَهْدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُضَحِّى بِالشَّاةِ عَنْهُ وَعَنْ أَهْلِ بَيْتِهِ

“Pada masa Rasulullah ﷺ ada seseorang (suami) menyembelih seekor kambing sebagai kurban bagi dirinya dan keluarganya.”[3]

Asy Syaukani mengatakan, “(Dari berbagai perselisihan ulama yang ada), yang benar, kurban kambing boleh diniatkan untuk satu keluarga walaupun dalam keluarga tersebut ada 100 jiwa atau lebih.”[4]

Ketentuan Kurban Sapi dan Unta

Seekor sapi boleh dijadikan kurban untuk 7 orang. Sedangkan seekor unta untuk 10 orang (atau 7 orang)[5]

Dari Ibnu Abbas raḍiyallāhu ‘anhu beliau mengatakan,

كُنَّا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فِى سَفَرٍ فَحَضَرَ الأَضْحَى فَاشْتَرَكْنَا فِى الْبَقَرَةِ سَبْعَةً وَفِى الْبَعِيرِ عَشَرَةً

“Dahulu kami penah bersafar bersama Rasulullah ﷺ lalu tibalah hari raya Iduladha maka kami pun berserikat sepuluh orang untuk kurban seekor unta. Sedangkan untuk seekor sapi kami berserikat sebanyak tujuh orang.”[6]

Begitu pula dari orang yang ikut urunan kurban sapi atau unta, masing-masing boleh meniatkan untuk dirinya dan keluarganya. Perhatikan fatwa Al-Lajnah Ad-Dā`imah berikut.

Soal pertama dari Fatwa Al-Lajnah Ad-Dā`imah Lil Buḥuṡ ’Ilmiyah Wal Iftā no. 8790:

Soal: Bolehkah seorang muslim berkurban unta atau sapi untuk tujuh orang, lalu masing-masing meniatkan untuk orang tua, anak, kerabat, pengajar dan kaum muslimin lainnya.  Apakah urunan tujuh orang tadi masing-masing diniatkan untuk satu orang saja (tanpa disertai lainnya) atau pahalanya boleh untuk yang lainnya?

Jawab: Yang diajarkan, unta dan sapi dibolehkan untuk tujuh orang. Setiap tujuh orang itu boleh meniatkan untuk dirinya sendiri dan anggota keluarganya.

Yang menandatangai fatwa ini:

Anggota: ’Abdullah bin Qu’ud, ’Abdullah bin Ghodyan

Wakil ketua: ’Abdur Rozaq ’Afifi

Ketua: ’Abdul ’Aziz bin ’Abdillah bin Baz[7]

Bagaimana Hukum kurban Secara Kolektif?

Sebagaimana ketentuan di atas, satu kambing hanya boleh untuk satu orang (dan boleh diniatkan untuk anggota keluarga), satu sapi untuk tujuh orang (termasuk anggota keluarganya), dan satu unta untuk sepuluh orang (termasuk anggota keluarganya), lalu bagaimana jika 1 kambing dijadikan kurban untuk 10 orang atau untuk satu sekolahan (yang memiliki murid ratusan orang) atau satu desa? Ada yang melakukan seperti ini dengan alasan dana yang begitu terbatas.

Sebagai jawabannya, alangkah baiknya kita perhatikan fatwa ulama yang terhimpun dalam Al-Lajnah Ad-Dā`imah (komisi fatwa di Saudi Arabia) mengenai hal ini.

Soal kedua dari Fatwa Al-Lajnah Ad-Dā`imah Lil Buḥuṡ ’Ilmiyah Wal Iftā no. 3055:

Soal: Ada seorang ayah yang meninggal dunia. Kemudian anaknya tersebut ingin berkurban untuk ayahnya. Namun ada yang menyarankan padanya, “Engkau tidak boleh menyembelih unta untuk kurban satu orang. Sebaiknya yang disembelih adalah satu ekor kambing. Karena unta lebih utama dari kambing. Jadi yang mengatakan “Sembelihlah unta”, itu keliru”. Karena apabila ingin berkurban dengan unta, maka harus dengan patungan bersama-sama.

Jawab:

Boleh berkurban atas nama orang yang meninggal dunia, baik dengan satu kambing atau satu unta. Adapun orang yang mengatakan bahwa unta hanya boleh disembelih dengan patungan bareng-bareng, maka perkataan dia yang sebenarnya keliru. Akan tetapi, kambing tidak sah kecuali untuk satu orang dan shohibul kurban (orang yang berkurban) boleh meniatkan pahala kurban kambing tadi untuk anggota keluarganya. Adapun unta boleh untuk satu atau tujuh orang dengan bareng-bareng berkurban. Tujuh orang tadi nantinya boleh patungan dalam kurban satu unta. Sedangkan sapi, kasusnya sama dengan unta.

Hanya Allah yang memberi taufik. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya.

Yang menandatangai fatwa ini:

Anggota: ’Abdullah bin Qu’ud, ’Abdullah bin Ghodyan

Ketua: ’Abdul ’Aziz bin ’Abdillah bin Baz[8]

Dari penjelasan ini, maka kita bisa ambil beberapa pelajaran:

Seorang pelaku kurban dengan seekor kambing boleh mengatasnamakan kurbannya atas dirinya dan keluarganya.

kurban dengan sapi atau unta boleh dipikul oleh tujuh orang.

Yang dimaksud kambing untuk satu orang, sapi dan unta untuk tujuh orang adalah dalam masalah orang yang menanggung pembiayaannya.

Tidak sah berkurban dengan seekor kambing secara kolektif/urunan lebih dari satu orang lalu diniatkan atas nama jama’ah, sekolah, RT atau desa. Kambing yang disembelih dengan cara seperti ini merupakan daging kambing biasa dan bukan daging kurban.

Solusi Dalam Iuran Kurban

Solusi yang bisa kami tawarkan untuk masalah iuran hewan kurban secara patungan adalah dengan acara arisan kurban. Jadi setiap tahun beberapa orang bisa bergantian untuk berkurban. Di antara alasan dibolehkan hal ini karena sebagian ulama membolehkan berutang ketika melakukan kurban.

Imam Ahmad bin Hambal mengatakan tentang orang yang tidak mampu akikah, “Jika seseorang tidak mampu akikah, maka hendaknya ia mencari utangan dan berharap Allah akan menolong melunasinya. Karena seperti ini akan menghidupkan ajaran Rasulullah ﷺ.”[9] Kurban sama halnya dengan akikah.

Sufyan Ats Tsauri mengatakan, “Dulu Abu Hatim pernah mencari utangan dan beliau pun menggiring unta untuk disembelih. Lalu dikatakan padanya, “Apakah betul engkau mencari utangan dan telah menggiring unta untuk disembelih?” Abu Hatim menjawab, ”Aku telah mendengar firman Allah,

لَكُمْ فِيهَا خَيْرٌ

Kamu akan memperoleh kebaikan yang banyak padanya.” (QS. Al Hajj: 36)[10]

Catatan:

Yang mengikuti arisan tersebut hendaknya orang yang berkemampuan karena yang namanya arisan berarti berutang.

Harga kambing bisa berubah setiap tahunnya. Oleh karena itu, arisan pada tahun pertama lebih baik setorannya dilebihkan dari perkiraan harga kambing untuk tahun tersebut.

Ketika menyembelih tetap mengatasnamakan individu (satu orang untuk kambing atau tujuh orang untuk sapi dan unta) dan bukan mengatasnamakan jama’ah atau kelompok arisan.

Bagaimana dengan hadis “Ini adalah kurbanku dan kurban siapa saja dari umatku yang belum berkurban”?

Sebagian orang ada yang beralasan benarnya kurban secara kolektif melebihi ketentuan syariat yang dikemukakan di atas dengan alasan hadis Jabir bin ’Abdillah berikut,

شَهِدْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- الأَضْحَى بِالْمُصَلَّى فَلَمَّا قَضَى خُطْبَتَهُ نَزَلَ مِنْ مِنْبَرِهِ وَأُتِىَ بِكَبْشٍ فَذَبَحَهُ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- بِيَدِهِ وَقَالَ: بِسْمِ اللَّهِ وَاللَّهُ أَكْبَرُ هَذَا عَنِّى وَعَمَّنْ لَمْ يُضَحِّ مِنْ أُمَّتِى.

“Aku bersama Rasulullah ﷺ menghadiri shalat iduladha di tanah lapang. Setelah Nabi ﷺ berkhutbah, beliau turun dari mimbar kemudian beliau diserahkan satu ekor domba. Lalu beliau memotong dengan tangannya, lantas bersabda, “Bismillah, wallahu akbar. Ini adalah kurbanku dan kurban siapa saja dari umatku yang tidak ikut berkurban”.[11] Mereka beralasan bahwa Nabi ﷺ saja niatkan untuk seluruh umatnya yang tidak berkurban, maka berarti kami boleh niatkan kurban untuk satu RT, satu sekolahan atau satu desa.

Sanggahan: Mengenai hadis “kurban siapa saja yang tidak ikut berkurban”, ini adalah khusus untuk Nabi ﷺ dan tidak untuk yang lainnya. Jadi, beliau diperbolehkan berkurban untuk seluruh umatnya (selain keluarganya). Sedangkan umatnya hanya diperbolehkan menyembelih kurban untuk dirinya dan keluarganya sebagaimana dijelaskan di muka.

Al Qodhi Abu Ishaq mengatakan, “Perkataan Nabi ﷺ ini –wallahu a’lam– sebagaimana seseorang boleh  berkurban untuk dirinya dan keluarganya, Nabi ﷺ boleh berkurban atas nama seluruh kaum muslimin karena beliau adalah ayah mereka dan istri-istri beliau adalah ibu mereka.”[12] Oleh karena, Nabi ﷺ adalah ayah kaum muslimin, maka beliau diperbolehkan meniatkan kurban untuk dirinya dan keluarganya (yaitu seluruh kaum muslimin).

Kesimpulan

Penyembelihan kurban untuk diri dan keluarga dibolehkan sebagaimana pendapat mayoritas ulama. Hal ini berdasarkan amalan yang dilakukan oleh Nabi ﷺ dan para sahabatnya.

Penyembelihan kurban untuk diri sendiri dan untuk seluruh umat Islam selain keluarga hanyalah khusus bagi Rasulullah ﷺ. Dalilnya, para sahabat tidak ada yang melakukan hal tersebut sepeninggal Nabi ﷺ. Yang ada mereka hanya menyembelih kurban untuk diri sendiri dan keluarga.

Sebagian kaum muslimin yang menyembelih kurban untuk satu sekolah atau untuk satu RT atau untuk satu desa adalah keliru, seperti ini tidak dilakukan oleh para salaf terdahulu. Semoga pelajaran yang kami sajikan ini bermanfaat bagi kaum muslimin sekalian. Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan para sahabatnya.

Catatan Kaki

Catatan Kaki
1 Sebagian ulama menyamakan kerbau dengan sapi.
2 Lihat Ṣaḥih Fikih Sunah, Abu Malik Kamal bin As-Sayid Salim, 2/369, Maktabah At-Taufiqiyah.
3 HR. Tirmiżi no. 1505, Ibnu Majah no. 3138. Syekh Al-Albani mengatakan bahwa hadis ini Ṣaḥih. Lihat Al-Irwa’ no. 1142.
4 Nailul Author, Asy Syaukani, 8/125, Mawqi’ Al Islam.
5 Jumhur (mayoritas) ulama berpendapat bahwa satu unta hanya dijadikan urunan tujuh orang untuk uḍḥiyah karena diqiyaskan dengan unta pada al-hadyu. Sedangkan Asy-Syaukani mengatakan bahwa unta uḍḥiyah boleh untuk sepuluh orang dan unta al-hadyu untuk tujuh orang. (Ṣaḥih Fikih Sunnah, 2/370)
6 HR. Tirmiżi no. 905, Ibnu Majah no. 3131. Tirmiżi mengatakan bahwa hadis ini hasan gorīb. Syekh Al-Albani mengatakan bahwa hadis ini ṣaḥih, sebagaimana dalam Misykatul Maṣobih 1469
7 Fatawa Al-Lajnah Ad-Dā`imah Lil Buḥuṡ ’Ilmiyah Wal Iftā, 11/405, Darul Iftā
8 Fatawa Al-Lajnah Ad-Dā`imah Lil Buḥuṡ ’Ilmiyah Wal Iftā, 11/403
9 Lihat Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyyah, 2/11011, Multaqo Ahlul Hadis.
10 Tafsir Al-Qur’an Al-‘Aẓīm, Abul Fida’ Ibnu Katsir, 5/426, Dar Thoyibah, cetakan kedua, tahun 1420 H.
11 HR. Abu Daud no. 2810, At Tirmidzi no. 1521. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadis ini sahih
12 Al-Muntaqo Syarh Al-Muwaṭṭo’, 3/113, Mawqi’ Al Islam.
Ditulis oleh Ustaz Muhammad Abduh Tuasikal, S.T., M.Sc.
Diambil dari website: mutiaradakwah.com
Share on print
Print Artikel

Berlanggan Artikel Mutiara Dakwah

Berlangganlah secara gratis untuk mendapatkan email artikel terbaru dari situs ini.

Cari Artikel

Generic selectors
Kata yang sama persis
Kata yang ada di judul
Kata yang ada di artikel
Filter Berdasarkan Kategori
Akhlak
Akidah
Al-Qur'an
Bahasa
Fatwa Ulama
Fikih
Hadis
Muamalah
Nasihat
Sirah
Tafsir
Tajwid

Cari Kategori

Sosmed

Tambahkan Komentar

Artikel Terkait

6 Keadaan Yang Diperbolehkannya Gibah
Muhammad Abduh Tuasikal, S.T., M.Sc.

6 Keadaan Yang Diperbolehkannya Gibah

Menceritakan aib orang lain tanpa ada hajat sama sekali, inilah yang disebut dengan gibah. Karena gibah artinya membicarakan ‘aib orang lain sedangkan ia tidak ada di saat pembicaraan. Aib yang

Baca Selengkapnya »

Stories

Apakah Anda Ingin Meningkatkan Bisnis Anda?

Tingkatkan dengan cara beriklan

Formulir anda berhasil dikirim, terimakasih

join mutiara dakwah

Subscribe agar anda mendapatkan artikel terbaru dari situs kami

join mutiara dakwah

Subscribe agar anda mendapatkan artikel terbaru dari situs kami

Kenapa Kita Harus Belajar Fikih Muamalat? Tata Cara Wudhu Yang Benar Pembagian Tauhid dan Maknanya Hukum Belajar Bahasa Inggris Kisah Rasulullah Hijrah Ke Madinah Mengajak Orang Lain Berbuat Baik, Tapi Lupa Diri Sendiri Hukum Hormat Kepada Bendera Hukum Bertawasul Dengan Amal Saleh Pengertian dan Contoh Mad Muttasil Tafsir Surah As-Shaff Ayat 7-9 5 Adab Membaca Alquran