Apa Hukum Mendengarkan Musik?

3 menit waktu membaca

Daftar Isi

Bolehkan Kita Mendengarkan Musik?

Para ulama berpendapat bahwa hukum mendengarkan musik adalah haram, mereka berdalil dengan firman Allah:

وَمِنَ ٱلنَّاسِ مَن يَشْتَرِى لَهْوَ ٱلْحَدِيثِ لِيُضِلَّ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ وَيَتَّخِذَهَا هُزُوًا ۚ أُو۟لَٰٓئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ مُّهِينٌ

“Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu olok-olokan. Mereka itu akan memperoleh azab yang menghinakan.” (QS. Luqman: 6)

Imam Ibnu Katsir raḥimahullāh dalam tafsirnya menjelaskan bahwasanya setelah Allah menceritakan tentang keadaan orang-orang yang berbahagia dalam ayat 1-5 pada surah Luqman, yaitu orang-orang yang mendapat petunjuk dari firman Allah (Al-Qur`an) dan mereka menikmati dan mendapatkan manfaat dari bacaan Al-Qur`an, lalu Allah menceritakan dalam ayat 6 dari surah Luqman ini tentang orang-orang yang sengsara, yaitu mereka yang berpaling dari mendengarkan Al-Qur`an dan berbalik arah menuju nyanyian dan musik.

Di dalam ayat tersebut ada kata “(لَهْوَ ٱلْحَدِيثِ) lahwal-ḥadīṡi” yang artinya adalah “perkataan yang tidak berguna.” Lalu, apa maksud dari “perkataan yang tidak berguna” dalam ayat tersebut?

“Perkataan yang tidak berguna” maksudnya adalah perkataan-perkataan yang melalaikan hati, yang menghalang-halanginya dari nilai-nilai yang mulia. Termasuk dalam hal ini adalah setiap perkataan yang diharamkan dan perkataan palsu lagi rendahan yang mendorong kepada kekafiran, kefasikan dan maksiat, dan dari perkataan-perkataan para penolak kebenaran, yang mendebat dengan kebatilan untuk mencampakkan yang benar. Juga termasuk di dalamnya gunjingan, adu domba (memfitnah), dusta, cacian dan celaan, lagu-lagu, tiupan seruling-seruling setan, nyanyian, tempat-tempat permainan, obrolan, dan dongeng-dongeng, yang tidak ada gunanya dalam agama maupun dunia.

Tafsir Para Ulama Tentang “Perkataan Yang Tidak Berguna”

“(لَهْوَ ٱلْحَدِيثِ) lahwal-ḥadīṡi”  yang diterjemahkan sebagai perkataan yang tidak berguna ditafsirkan oleh para ulama sebagai berikut:

Ibnu Jarir Aṭ-Ṭabari menyebutkan:

Ibnu Mas’ud mengatakan, “Yang dimaksud adalah nyanyian, demi Zat yang tidak ada ilah (sesembahan) yang berhak diibadahi selain Dia.” Beliau menyebutkan makna tersebut sebanyak tiga kali.

Ibnu ‘Abbas mengatakan, “Nyanyian dan yang sejenisnya dan mendengarkannya”

Jābir mengatakan, “Nyanyian dan mendengarkannya”

Mujāhid mengatakan, “Nyanyian dan semua permainan yang melalaikan.” Dalam kesempatan lain beliau mengatakan, “Genderang (rebana).”

‘Ikrmah mengatakan, “Nyanyian.”

Ibnu Jarir Aṭ-Ṭabari sendiri mengomentari:

“Pendapat yang betul adalah, yang dimaksud dengannya (perkataan yang tidak berguna) adalah semua perkataan yang melalaikan dari jalan Allah dari apa-apa yang dilarang Allah mendengarkannya, atau apa-apa yang dilarang Rasulullah ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam (dari mendengarkannya), karena Allah mengucapkan firman-Nya tersebut (perkataan tidak berguna) bersifat umum dan tidak mengkhususkan sebagian ucapan tanpa sebagian yang lain. Oleh karena itu tetap berlaku umum sehingga ada dalil yang mengkhususkannya. Nyanyian dan syirik termasuk perkataan tidak berguna itu.”

Rasulullah Telah Mengabarkan Tentang Musik

Termasuk mukjizat yang Allah Ta’ālā berikan kepada Rasulullah ṣallallāhu ‘alaihi wasallam adalah pengetahuan beliau tentang beberapa hal yang terjadi di masa mendatang. Dahulu, beliau pernah bersabda,

ليكونن من أمتي أقوام يستحلون الحر والحرير والخمر والمعازف

Sungguh akan ada sebagian dari umatku yang menghalalkan zina, sutra, minuman keras, dan alat-alat musik.” (HR. Bukhari, no. 5590)

Bukankah hal yang dikabarkan oleh Rasulullah tersebut telah terjadi pada zaman kita saat ini? Dan juga, jika dikatakan menghalalkan musik, berarti hukum musik itu adalah haram.

Dan juga dalam hadis lain, secara terang-terangan Rasulullah ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam menjelaskan tentang musik. Beliau pernah bersabda,

إني لم أنه عن البكاء ولكني نهيت عن صوتين أحمقين فاجرين : صوت عند نغمة لهو ولعب ومزامير الشيطان وصوت عند مصيبة لطم وجوه وشق جيوب ورنة شيطان

“Aku tidak melarang kalian menangis. Namun, yang aku larang adalah dua suara yang bodoh dan maksiat; (1) suara di saat nyanyian hiburan/kesenangan, permainan dan lagu-lagu setan, (2) serta suara ketika terjadi musibah, menampar wajah, merobek baju, dan jeritan setan.” (HR. Hakim: 4/40, Baihaqi: 4/69)

Kedua hadis di atas telah menjadi bukti untuk kita bahwasanya hukum mendengarkan musik adalah haram, dan Allah serta Rasul-Nya lah yang telah melarang nyanyian beserta alat musik.

Artikel Menarik Lainnya: Mengapa Kita Harus Menyembah Allah Saja?

Ditulis oleh Ustaz Muhammad Thalib, MA
Diambil dari website: mutiaradakwah.com
Share on print
Print Artikel

Berlanggan Artikel Mutiara Dakwah

Berlangganlah secara gratis untuk mendapatkan email artikel terbaru dari situs ini.

Cari Artikel

Generic selectors
Kata yang sama persis
Kata yang ada di judul
Kata yang ada di artikel
Filter Berdasarkan Kategori
Akhlak
Akidah
Al-Qur'an
Bahasa
Fatwa Ulama
Fikih
Hadis
Muamalah
Nasihat
Sirah
Tafsir
Tajwid

Cari Kategori

Sosmed

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on telegram
Telegram
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on email
Email

Tambahkan Komentar

Artikel Terkait

Hukum Hormat Kepada Bendera
dr. Raehanul Bahraen, M.Sc, Sp.PK

Hukum Hormat Kepada Bendera

Apakah penghormatan kepada bendera diperbolehkah? Apakah dilarang agama? Dan apakah penghormatan kepada bendera sampai pada tahap kesyirikan?

Baca Selengkapnya »
Hukum Memasang Foto Di Dinding
Yulian Purnama, S.Kom.

Hukum Memajang Foto Di Dinding

Fatwa Syekh Abdul Aziz bin Baz Soal Apa hukum memajang foto (manusia) di dinding? Bolehkah memajang foto saudara atau foto ayah atau yang semisal dengan mereka? Jawab Memajang foto makhluk

Baca Selengkapnya »
Yazid bin Abdul Qadir Jawas

Hukum Salat Berjamaah Di Masjid

Keutamaan Salat Berjamaah Wahai saudaraku, semoga Allah mengaruniakan rahmat-Nya kepadamu… Ketahuilah bahwa salat lima waktu harus kita kerjakan dengan berjamaah. Karena Nabi ﷺ memerintahkan kita untuk salat berjamaah. Rasulullah ﷺ

Baca Selengkapnya »

Apakah Anda Ingin Meningkatkan Bisnis Anda?

Tingkatkan dengan cara beriklan

Formulir anda berhasil dikirim, terimakasih

join mutiara dakwah

Subscribe agar anda mendapatkan artikel terbaru dari situs kami

join mutiara dakwah

Subscribe agar anda mendapatkan artikel terbaru dari situs kami

Mengkhatamkan Al-Qur`an Sebulan Sekali Pelajari Adab Sebelum Ilmu Kenapa Kita Harus Belajar Fikih Muamalat? Tata Cara Wudhu Yang Benar Pembagian Tauhid dan Maknanya Hukum Belajar Bahasa Inggris Kisah Rasulullah Hijrah Ke Madinah Mengajak Orang Lain Berbuat Baik, Tapi Lupa Diri Sendiri Hukum Hormat Kepada Bendera Hukum Bertawasul Dengan Amal Saleh Pengertian dan Contoh Mad Muttasil