Iman Kepada Allah – Iman terhadap Ulūhiyyah-Nya

Iman terhadap Ulūhiyyah Allah

Ketiga: Iman terhadap Ulūhiyyah-Nya

Yaitu keyakinan yang kuat bahwa Allah semata yang menjadi ilah yang benar, Dia yang berhak untuk disembah, tidak ada selain-Nya.

Makna ilah adalah yang disembah, yang disembah oleh hati dengan penuh kecintaan dan pengagungan. Hakikat ibadah adalah kesempurnaan cinta disertai kesempurnaan kerendahan, ketundukan, dan pengagungan. Ini semua tidak dilakukan kecuali kepada Ilah yang Esa.

Kesaksian tentang keimanan ini datang dari kesaksian yang paling agung, dari saksi yang paling agung, dan pada objek kesaksian paling agung juga. Allah Ta’ālā berfirman,

“Allah menyatakan bahwa tidak ada ilah (tuhan) yang berhak disembah selain Dia; (demikian pula) para Malaikat dan orang berilmu yang menegakkan keadilan, tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Dia, Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana.” (QS. Āli ‘Imrān: 18) 

“Dan Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Mahaesa, tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang.”(QS. Al-Baqarah: 163)

Allah menciptakan semua makhluk-Nya, manusia dan jin, untuk beribadah kepada-Nya semata, padahal Dia sangat tidak membutuhkan mereka. Allah berfirman,

“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku. Aku tidak menghendaki rezeki sedikit pun dari mereka dan Aku tidak menghendaki agar mereka memberi makan kepada-Ku.” (QS. Aż-Żāriyāt: 56-57)

Allah mengutus semua rasul-Nya untuk merealisasikan keimanan ini, dan menyeru mereka untuk mengesakan Allah dalam ibadah, serta meninggalkan kesyirikan. Allah Ta’ālā berfirman,

“Dan sungguh, Kami telah mengutus seorang rasul untuk setiap umat (untuk menyerukan), ‘Sembahlah Allah, dan jauhilah ṭāgūt.'” (QS. An-Naḥl: 36)

Maka mereka pun memulai dengan mendakwahi kaum mereka dengan mengatakan, “Wahai kaumku! Sembahlah Allah! Tidak ada tuhan (sembahan) bagimu selain Dia.” (QS. Al-A’rāf: 59, 65, 73, 85)

Allah juga berfirman,

“Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum engkau (Muhammad), melainkan Kami wahyukan kepadanya, bahwa tidak ada tuhan (yang berhak disembah) melainkan Aku, maka sembahlah Aku.” (QS. Al-Anbiyā`: 25)

Perealisasian keimanan ini menuntut penyerahan semua jenis ibadah kepada Allah semata. Siapa yang menyerahkan sebuah ibadah kepada selain Allah maka berarti dia musyrik dan kafir.

Ibadah ini ada beberapa jenis:

a. Ibadah Hati

Seperti:

– Maḥabbah (rasa cinta). Allah Ta’ālā berfirman,

“Dan di antara manusia ada orang yang menyembah tuhan selain Allah sebagai tandingan, yang mereka cintai seperti mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman sangat besar cintanya kepada Allah.” (QS. Al-Baqarah: 165)

– Al-Khauf (rasa takut). Allah Ta’ālā berfirman,

“Karena itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku, jika kamu orang-orang yang beriman.” (QS. Āli ‘Imrān: 175)

– Ar-Rajā` (rasa harap). Allah Ta’ālā berfirman,

“Aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang telah menerima wahyu, bahwa sesungguhnya Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Mahaesa. Maka barang siapa mengharap pertemuan dengan Tuhannya, maka hendaklah dia mengerjakan kebajikan dan janganlah dia mempersekutukan dengan sesuatu pun dalam beribadah kepada Tuhannya.” (QS. Al-Kahfi: 110)

Ketiga macam ibadah ini adalah induk ibadah hati. Allah Ta’ālā berfirman,

Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan (mendekat) kepada Tuhan, siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah). Mereka mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya. (QS. Al-Isrā`: 57)

Ketiga hal itu tidak bisa hanya dicukupkan dengan sebagiannya saja tanpa sebagian yang lain. Siapa yang menyembah Allah hanya dengan rasa takut (khauf) saja maka dia adalah Ḥarūriy (Khawarij). Siapa yang menyembah Allah dengan rasa harap (ar-rajā`) saja maka dia adalah Murji`ah. Siapa yang menyembah Allah dengan rasa cinta (maḥabbah) semata maka dia Zindiq. Siapa yang menyembah Allah dengan rasa cinta (maḥabbah), rasa takut (khauf), dan rasa harap (ar-rajā`) maka dia adalah orang yang bertauhid lurus.

Kebaikan hati merupakan dasar kebaikan tubuh, sebagaimana disebutkan dalam hadis, “Ketahuilah bahwa di dalam tubuh itu ada segumpal darah. Jika dia baik maka baiklah semua tubuh, dan jika dia rusak maka rusak pulalah semua tubuh. Ketahuilah bahwa dia adalah hati.” (Muttafaq ‘alaihi).([1])

b. Ibadah Perkataan

Seperti:

– Doa. Allah berfirman,

“Dan sesungguhnya masjid-masjid itu adalah untuk Allah. Maka janganlah kamu menyeru (berdoa kepada) apa pun di dalamnya selain Allah.” (QS. Al-Jinn: 18)

Isti’āżah (meminta perlindungan). Allah Ta’ālā berfirman,

“Katakanlah, ‘Aku berlindung kepada Tuhan yang menguasai subuh (fajar).'” (QS. Al-Falaq: 1).

“Katakanlah, ‘Aku berlindung kepada Tuhannya manusia’.” (QS. An-Nās: 1)

Istigāṡah (istigasah/memohon pertolongan). Allah Ta’ālā berfirman,

“(Ingatlah), ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhan kamu, lalu itu dikabulkan-Nya untuk kamu.” (QS. Al-Anfāl: 9)

– Zikir dengan berbagai jenisnya. Allah Ta’ālā berfirman,

“Wahai orang-orang yang beriman! Ingatlah kepada Allah, dengan mengingat (nama-Nya) sebanyak-banyaknya.” (QS. Al-Aḥzāb: 41)

– Tilawah. Allah Ta’ālā berfirman,

“Bacalah Kitab (Al-Qur`ān) yang telah diwahyukan kepadamu (Muhammad).” (QS. Al-‘Ankabūt: 41)

– Berbagai perkataan baik secara umum. Allah Ta’ālā berfirman,

“Kepada-Nyalah akan naik perkataan-perkataan yang baik.” (QS. Fāṭir: 10) 

c. Ibadah Anggota Badan

Seperti:

– Salat dan berkurban. Allah Ta’ālā berfirman,

“Katakanlah (Muhammad), “Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan seluruh alam.” (QS. Al-An’ām: 162) 

“Maka laksanakanlah salat karena Tuhanmu, dan berkurbanlah.” (QS. Al-Kauṡar: 2)

– Tawaf. Allah Ta’ālā berfirman,

“Dan hendaklah mereka melakukan tawaf di sekeliling rumah tua (Baitullah).” (QS. Al-Ḥajj: 29)

– Menyingkirkan duri dari jalan. Rasulullah ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang cabang-cabang keimanan, “Dan yang paling rendah adalah menyingkirkan duri dari jalan.”([2]) Dan amalan-amalan anggota badan lainnya.

d. Ibadah Harta

Seperti nafkah-nafkah yang bersifat ibadah berupa zakat, sedekah, wasiat, wakaf, dan hibah. Allah Ta’ālā berfirman,

“Sesungguhnya zakat itu hanyalah untuk orang-orang fakir, orang miskin, amil zakat, yang dilunakkan hatinya (mualaf), untuk (memerdekakan) hamba sahaya, untuk (membebaskan) orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai kewajiban dari Allah. Allah Maha Mengetahui, Mahabijaksana.” (QS. At-Taubah: 60)

Dan Allah berfirman,

“Dan di antara orang-orang Arab Badui itu ada yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, dan memandang apa yang diinfakkannya (di jalan Allah) sebagai jalan mendekatkan diri kepada Allah dan sebagai jalan untuk (memperoleh) doa Rasul. Ketahuilah, sesungguhnya infak itu suatu jalan bagi mereka untuk mendekatkan diri (kepada Allah). Kelak Allah akan memasukkan mereka ke dalam rahmat (surga)-Nya; sesungguhnya Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.”. (QS. At-Taubah: 99)

Juga seperti memberi makan. Allah Ta’ālā berfirman,

“Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim, dan orang yang ditawan,(sambil berkata), ‘Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah karena mengharapkan keridaan Allah, kami tidak mengharap balasan dan terima kasih dari kamu.'”

Keimanan dengan ulūhiyyah Allah ‘Azza wa Jalla merupakan konsekuensi dan implikasi dari keimanan dengan rubūbiyyah-Nya. Siapa yang mengakui bahwa Allah adalah Pencipta, Raja, dan Pengatur alam semesta, maka ini berimplikasi bahwa dia harus mengakui sifat ulūhiyyah-Nya (hak-Nya untuk disembah) dan mengesakan-Nya dalam beribadah. Allah sudah menegakkan hujah terhadap orang-orang musyrik dengan pengakuan ini di beberapa ayat dalam kitab-Nya, seperti:

  • “Wahai manusia! Sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelum kamu, agar kamu bertakwa. (Dialah) yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dialah menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia hasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezeki untukmu. Karena itu, janganlah kamu mengadakan tandingan-tandingan bagi Allah, padahal kamu mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 21-22)
  • Katakanlah (Muhammad), “Siapakah yang memberi rezeki kepada kamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati, dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup, dan siapakah yang mengatur segala urusan?” Maka mereka menjawab, “Allah.” Maka katakanlah, “Mengapa kamu tidak bertakwa (kepada-Nya)?” Maka itulah Allah, Tuhan kamu yang sebenarnya; maka tidak ada setelah kebenaran itu melainkan kesesatan. Maka mengapa kamu berpaling (dari kebenaran)? (QS. Yūnus: 31-32)
  • Katakanlah (Muhammad), “Segala puji bagi Allah dan salam sejahtera atas hamba-hamba-Nya yang dipilih-Nya. Apakah Allah yang lebih baik, ataukah apa yang mereka persekutukan (dengan Dia)?”

Bukankah Dia (Allah) yang menciptakan langit dan bumi dan yang menurunkan air dari langit untukmu, lalu Kami tumbuhkan dengan air itu kebun-kebun yang berpemandangan indah? Kamu tidak akan mampu menumbuhkan pohon-pohonnya. Apakah di samping Allah ada tuhan (yang lain)? Sebenarnya mereka adalah orang-orang yang menyimpang (dari kebenaran).

Bukankah Dia (Allah) yang telah menjadikan bumi sebagai tempat berdiam, yang menjadikan sungai-sungai di celah-celahnya, yang menjadikan gunung-gunung untuk (mengukuhkan)nya dan menjadikan suatu pemisah antara dua laut? Apakah di samping Allah ada tuhan (yang lain)? Sebenarnya kebanyakan mereka tidak mengetahui.

Bukankah Dia (Allah) yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila dia berdoa kepada-Nya, dan menghilangkan kesusahan dan menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah (pemimpin) di bumi? Apakah di samping Allah ada tuhan (yang lain)? Sedikit sekali (nikmat Allah) yang kamu ingat.

Bukankah Dia (Allah) yang memberi petunjuk kepada kamu dalam kegelapan di daratan dan lautan dan yang mendatangkan angin sebagai kabar gembira sebelum (kedatangan) rahmat-Nya? Apakah di samping Allah ada tuhan (yang lain)? Mahatinggi Allah terhadap apa yang mereka persekutukan.

Bukankah Dia (Allah) yang menciptakan (makhluk) dari permulaannya, kemudian mengulanginya (lagi) dan yang memberikan rezeki kepadamu dari langit dan bumi? Apakah di samping Allah ada tuhan (yang lain)? Katakanlah, “Kemukakanlah bukti kebenaranmu, jika kamu orang yang benar.” (QS. An-Naml: 59-64)

Maka Allah menegakkan hujah terhadap mereka untuk tauhid ulūhiyyah dengan pengakuan mereka terhadap tauhid rubūbiyyah.

  • Allah Subḥānahu wa Ta’ālā juga menafikan sifat ulūhiyyah tuhan-tuhan orang musyrik karena dia tidak memiliki sifat-sifat rubūbiyyah. Allah Ta’ālā berfirman,

“Mengapa mereka mempersekutukan (Allah dengan) sesuatu (berhala) yang tidak dapat menciptakan sesuatu apa pun? Padahal (berhala) itu sendiri diciptakan.

Dan (berhala) itu tidak dapat memberikan pertolongan kepada penyembahnya, dan kepada dirinya sendiri pun mereka tidak dapat memberi pertolongan.

Dan jika kamu (wahai orang-orang musyrik) menyerunya (berhala-berhala) untuk memberi petunjuk kepadamu, tidaklah berhala-berhala itu dapat memperkenankan seruanmu; sama saja (hasilnya) buat kamu menyeru mereka atau berdiam diri.

Sesungguhnya mereka (berhala-berhala) yang kamu seru selain Allah adalah makhluk (yang lemah) yang serupa juga dengan kamu. Maka serulah mereka lalu biarkanlah mereka memperkenankan permintaanmu, jika kamu orang yang benar.

Apakah mereka (berhala-berhala) mempunyai kaki untuk berjalan, atau mempunyai tangan untuk memegang dengan keras,  atau mempunyai mata untuk melihat, atau mempunyai telinga untuk mendengar? Katakanlah (Muhammad), ‘Panggillah berhala-berhalamu yang kamu anggap sekutu Allah, kemudian lakukanlah tipu daya (untuk mencelakakan)ku, dan jangan kamu tunda lagi.

Sesungguhnya pelindungku adalah Allah yang telah menurunkan Kitab (Al-Qur`ān), dan Dia melindungi orang-orang saleh.

Dan berhala-berhala yang kamu seru selain Allah tidaklah sanggup menolong kamu, bahkan tidak dapat menolong dirinya sendiri.’

Dan jika kamu menyeru mereka (berhala-berhala) untuk memberi petunjuk, mereka tidak dapat mendengarnya. Dan kamu lihat mereka memandang kamu padahal mereka tidak melihat.” (QS. Al-A’rāf: 191-198)

  • “Namun mereka mengambil tuhan-tuhan selain Dia (untuk disembah), padahal mereka (tuhan-tuhan itu) tidak menciptakan apa pun, bahkan mereka sendiri diciptakan dan tidak kuasa untuk (menolak) bahaya terhadap dirinya dan tidak dapat (mendatangkan) manfaat serta tidak kuasa mematikan, menghidupkan dan tidak (pula) membangkitkan.” (QS. Al-Furqān: 3)
  • Katakanlah (Muhammad), “Serulah mereka yang kamu anggap (sebagai tuhan) selain Allah! Mereka tidak memiliki (kekuasaan) seberat zarah pun di langit dan di bumi, dan mereka sama sekali tidak mempunyai peran serta dalam (penciptaan) langit dan bumi dan tidak ada di antara mereka yang menjadi pembantu bagi-Nya.” Dan syafaat (pertolongan) di sisi-Nya hanya berguna bagi orang yang telah diizinkan-Nya (memperoleh syafaat itu). Sehingga apabila telah dihilangkan ketakutan dari hati mereka, mereka berkata, “Apakah yang telah difirmankan oleh Tuhanmu?” Mereka menjawab, “(Perkataan) yang benar,” dan Dialah Yang Mahatinggi, Mahabesar. (QS. Saba`: 22-23)

Oleh karena itu maka kesyirikan dalam ibadah kepada Allah Ta’ālā merupakan:

1. Kezaliman yang paling besar

Allah Ta’ālā berfirman, “Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.” (QS. Luqmān: 13)

Karena perbuatan tersebut merupakan pelecehan terhadap Tuhan semesta alam, memberikan hak privat-Nya kepada selain-Nya, dan mempersekutukan selain-Nya dengan diri-Nya, sebagaimana firman Allah Ta’ālā, “Namun demikian orang-orang kafir masih mempersekutukan Tuhan mereka dengan sesuatu.” (QS. Al-An’ām: 1)

2. Dosa paling besar

Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Maukah kalian aku beritahukan tentang dosa paling besar?” (Beliau ucapkan) tiga kali. Mereka menjawab, “Tentu mau wahai Rasulullah.” Beliau bersabda, “Mempersekutukan Allah…” (Muttafaq ‘alaihi)([3])

3. Dosa paling berbahaya

Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam ditanya, “Dosa apakah yang paling berbahaya di sisi Allah?” Beliau menjawab, “Engkau menjadikan tandingan bagi Allah padahal Dia telah menciptakanmu.” (Muttafaq ‘alaihi)([4])

4. Bertentangan dengan fitrah, dan terjerumus ke dalam kesesatan

Allah Ta’ālā berfirman, “Barang siapa mempersekutukan Allah, maka seakan-akan dia jatuh dari langit lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh.” (QS. Ḥajj: 31)

Allah Ta’ālā telah menetapkan hukum dunia dan akhirat terhadap perbuatan syirik karena bahayanya, di antaranya:

1. Dosanya tidak diampuni

Allah Ta’ālā berfirman, “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni (dosa) karena mempersekutukan-Nya (syirik), dan Dia mengampuni apa (dosa) yang selain (syirik) itu bagi siapa yang Dia kehendaki. Barang siapa mempersekutukan Allah, maka sungguh, dia telah berbuat dosa yang besar.” (QS. An-Nisā`: 47)

2. Pelakunya diharamkan dari surga, dan kekal di neraka

Allah Ta’ālā berfirman, “Sesungguhnya barang siapa mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka sungguh, Allah mengharamkan surga baginya, dan tempatnya ialah neraka. Dan tidak ada seorang penolong pun bagi orang-orang yang zalim itu.” (QS. Al-Mā`idah: 72)

3. Semua amalan jadi terhapus

Allah Ta’ālā berfirman, “Sungguh jika engkau menyekutukan (Allah), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah engkau termasuk orang yang rugi.” (QS. Az-Zumar: 65)

4. Keagungan darah dan hartanya menjadi hilang

Allah Ta’ālā berfirman, “Apabila telah habis bulan-bulan ḥaram, maka perangilah orang-orang musyrik di mana saja kamu temui, tangkaplah dan kepunglah mereka, dan awasilah di tempat pengintaian. Jika mereka bertobat dan melaksanakan salat serta menunaikan zakat, maka berilah kebebasan kepada mereka. Sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS. At-Taubah: 5)

Rasulullah ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Aku diperintahkan untuk memerangi manusia sampai mereka mengatakan, ‘Lā ilāha illallāh (tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah).’ Siapa yang telah mengucapkannya maka harta dan jiwanya menjadi haram bagiku kecuali dengan haknya, dan hisab (amalan)nya diserahkan kepada Allah.” (Muttafaq ‘alaihi)([5])

Dalam permasalahan ini, telah terjadi kesesatan beberapa kelompok anak cucu Adam, di antaranya:

  1. Para penyembah berhala

Yaitu para penyembah berhala dengan berbagai ragam sembahan mereka, berupa pepohonan, bebatuan, manusia, jin, malaikat, bintang-bintang, hewan, dan lainnya di mana mereka telah ditipu oleh setan.

  1. Para pengagung kuburan

Mereka adalah orang-orang yang berdoa kepada kuburan, memberikan nazar dan kurban terhadap penghuninya, dan meminta dari mereka untuk mendatangkan manfaat dan menolak mudarat.

  1. Penyihir, dukun, dan peramal

Yaitu orang-orang yang menyembah jin sebagai kompensasi dari apa yang mereka dapatkan dari jin tersebut, atau jin tersebut menghadirkan atau membuat sesuatu untuk mereka.

Karena besarnya bahaya kesyirikan dalam beribadah, maka Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam mewanti-wanti penyebab yang bisa mengantarkan kepadanya, dan menutupi berbagai sarana yang bisa menjerumuskan ke dalamnya. Di antaranya:

1. Melarang bersikap guluw (berlebihan) terhadap orang saleh

Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Waspadalah kalian terhadap guluw. Karena sesungguhnya orang-orang sebelum kalian itu celaka karena sikap guluw mereka dalam beragama.” (HR. Ahmad, Nasa`i, dan Ibnu Majah).([6])

Beliau juga bersabda, “Janganlah kalian menyanjungku sebagaimana orang-orang Nasrani menyanjung (Isa) putra Maryam. Sesungguhnya aku adalah hamba Allah, maka ucapkanlah Abdullah (hamba Allah) dan rasul-Nya.” (HR. Bukhari)([7])

Di antara bentuk guluw (berlebihan) dalam mengagungkan orang-orang saleh adalah bertawasul dengan mereka (yang sudah meninggal).

Tawasul itu ada beberapa macam:

  • Pertama, tawasul kesyirikan yang mengeluarkan pelakunya dari agama, yaitu berdoa kepada mereka selain Allah untuk memenuhi kebutuhan dan menghilangkan kesusahan.
  • Kedua, tawasul bidah yang tidak sampai pada taraf kesyirikan. Yaitu tawasul kepada Allah dengan sesuatu yang tidak disyariatkan, seperti bertawasul dengan diri orang-orang saleh, kedudukan, hak, atau kehormatan mereka, dan sebagainya.
  • Ketiga, tawasul yang disyariatkan, yaitu bertawasul dengan keimanan dan ketaatan kepada Allah; berdoa dengan menggunakan salah satu nama atau sifat-sifat-Nya; berdoa menggunakan amal saleh yang pernah dilakukan; atau meminta doa dari orang saleh dalam urusan umum.

Adapun ucapan Umar raḍiyallāhu ‘anhu, “Ya Allah, sesungguhnya kami dahulu bertawasul kepada-Mu dengan perantaraan Nabi kami ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam maka Engkau memberikan kami hujan, dan sekarang kami bertawasul dengan perantaraan paman Nabi-Mu, maka berilah kami hujan.” (HR. Bukhari)([8]) Maka ini merupakan tawasul dengan perantaraan doa Abbas karena kedekatan kekerabatannya dengan Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam, bukan dengan diri Abbas itu sendiri. Kalau seandainya bertawasul dengan diri orang saleh disyariatkan, maka tentu mereka sudah bertawasul dengan Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam meskipun beliau sudah wafat.

2. Berhati-hati dari fitnah kuburan

Di antara bentuk fitnahnya adalah:

  • Menjadikannya sebagai masjid

Diriwayatkan dari Aisyah raḍiyallāhu ‘anhā, dia berkata, “Ketika tanda-tanda kematian datang kepada Rasulullah ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam maka beliau menutupkan kain wol bergaris-garis pada wajah beliau, sewaktu beliau susah bernafas karenanya, beliau membukanya dari wajahnya, ketika dalam kondisi demikian, beliau bersabda, ‘Laknat Allah atas orang-orang Yahudi dan Nasrani, mereka menjadikan kubur-kubur para nabi mereka sebagai masjid-masjid.’ Beliau memperingatkan dari apa yang telah mereka lakukan. Kalau bukan karena itu maka kuburan beliau pasti ditampakkan, hanya saja beliau khawatir kuburan itu dijadikan masjid.”([9])

Dan beliau juga bersabda, “Ketahuilah! Sesungguhnya orang-orang sebelum kalian menjadikan kuburan para nabi mereka dan orang-orang saleh sebagai masjid. Ketahuilah! Janganlah kalian menjadikan kuburan sebagai masjid, sesungguhnya aku melarang kalian dari perbuatan itu.” (HR. Muslim)([10])

Makna menjadikan kuburan sebagai masjid adalah menyengajakan untuk salat di sana, meskipun tidak dibuatkan bangunan masjid di atasnya, karena sesungguhnya masjid adalah tempat sujud.

  • Membuat bangunan di atasnya, meninggikannya, dan menemboknya

Diriwayatkan dari Abu Al-Hayyāj Al-Asadiy raḥimahullāhu, dia berkata, “Ali bin Abi Ṭālib raḍiyallāhu ‘anhu berkata kepadaku, ‘Maukah kamu jika aku utus melakukan pekerjaan yang aku pernah diutus Rasulullah ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam untuk melakukannya? Jangan kamu membiarkan patung melainkan kamu hancurkan, dan jangan kamu biarkan kuburan yang tinggi melainkan kamu ratakan.'” (HR. Muslim)([11])

Dari Jabir bin Abdullah raḍiyallāhu ‘anhu, ia berkata, “Rasulullah ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam melarang menembok kuburan, duduk di atasnya, atau dibuatkan bangunan di atasnya.” (HR. Muslim) ([12])

Termasuk ke dalam larangan ini membuat kubah di atasnya, memperindah dan menghiasinya.

  • Mempersiapkan perjalanan ke kuburan

Ini berdasarkan keumuman sabda Rasulullah ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam, “Janganlah melakukan perjalanan (ibadah) kecuali ke salah satu dari tiga masjid berikut: Masjidilharam, masjidku, dan masjid Al-Aqṣa.” (Muttafaq ‘alaihi)([13])

  • Menjadikan kuburan itu sebagai ‘id

Rasulullah ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah kalian menjadikan kuburanku sebagai ‘id.” (HR. Abu Daud) ([14])

‘Id maksudnya adalah waktu dan tempat yang sering dikunjungi dan dituju.

3. Mewaspadai penyerupaan orang-orang musyrik dan ahli kitab dalam masalah akidah, ibadah, dan adat-adat khusus mereka

Rasulullah ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Selisihilah orang-orang musyrik!” (Muttafaq’ alaihi)([15])

Beliau juga bersabda, “Selisihilah orang-orang Majusi!” (HR. Muslim)([16]) Dan juga sabda beliau, “Selisihilah orang-orang Yahudi!” (HR. Abu Daud)([17])

4. Larangan menggambar

Diriwayatkan dari Aisyah bahwa Ummu Salamah raḍiyallāhu ‘anhumā menyebutkan kepada Rasulullah ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam tentang gereja yang dilihatnya di Habasyah (Ethiopia) dan gambar-gambar yang ada di dalamnya. Beliau bersabda, “Mereka itu adalah kaum yang ketika ada laki-laki saleh meninggal maka mereka membangun tempat sujud/masjid di atas kuburannya, dan mereka membuat gambar-gambar tersebut. Mereka itu adalah sejelek-jelek makhluk di sisi Allah.”  (Muttafaq ‘alaihi)([18])

5. Larangan menggunakan lafal-lafal kesyirikan

Di antara bentuk-bentuknya adalah:

  • Bersumpah dengan selain Allah

Ini berdasarkan hadis, “Siapa yang bersumpah dengan selain Allah maka dia telah kafir atau menyekutukan Allah.” (HR. Tirmizi)([19])

  • Menyamakan kehendak Allah dengan selain-Nya

Berdasarkan sabda Nabi kepada orang yang mengatakan kepadanya, “Mā syā`allāhu wa syi`ta (Terserah apa yang dikehendaki oleh Allah dan Anda kehendaki),” (maka beliau bersabda,) “Apakah kamu menjadikanku sebagai tandingan bagi Allah? Ucapkanlah, ‘Mā syā`allāhuwaḥdahu (Terserah apa yang dikehendaki Allah semata).'” (HR. Nasa`i)([20])

  • Ucapan “Kami diberi hujan karena bintang ini”

Berdasarkan sabda Nabi dalam hadis qudsi, “Dan adapun orang yang mengatakan, ‘Kami diberi hujan karena bintang ini dan ini’ maka dia telah kafir denganku dan beriman kepada bintang-bintang.” (Muttafaq ‘alaihi)([21])

Dikiaskan dengan ucapan ini semua ucapan yang mengandung penyandaran pengaturan alam semesta kepada selain Allah Ta’ālā.

6. Mewaspadai amalan-amalan yang mengantarkan kepada kesyirikan

Di antara bentuk-bentuknya adalah:

  • Memakai kalung atau benang di tangan atau di leher dengan tujuan untuk menolak bala atau menghilangkannya

Ini berdasarkan hadis ‘Imrān bin Ḥuṣain raḍiyallāhu ‘anhumā bahwasanya Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam melihat seorang laki-laki memakai gelang dari tembaga di tangannya. Beliau bersabda, “Celakalah kamu, apa ini?” Dia menjawab, “(Penangkal) kelemahan.” Beliau bersabda, “Buanglah benda itu! Karena sesungguhnya dia tidak menambahmu melainkan kelemahan. Sesungguhnya jika engkau mati dalam keadaan memakainya maka engkau tidak akan selamat selamanya.” (HR. Ahmad, Ibnu Majah, dan Ibnu Hibban)([22])

  • Memakai jimat, wada’ah, autār (kalung dari tali busur) dan kalung untuk menolak ‘ain

Ini berdasarkan hadis, “Barang siapa yang menggantungkan jimat, semoga Allah tidak menyelesaikan urusannya, dan barang siapa yang menggantungkan wada’ah (sejenis jimat), semoga Allah tidak akan memberikan ketenangan kepadanya”. (HR. Ahmad, Ibnu Hibban, dan Hakim)([23])

Dalam riwayat Ahmad dan Hakim yang lainnya disebutkan, “Siapa yang menggantungkan jimat maka dia telah berbuat syirik.”([24])

Dan juga berdasarkan hadis, “Janganlah kamu biarkan kalung dari watar (tali busur) yang ada di leher unta melainkan kamu potong.” (Muttafaq ‘alaihi)([25])

  • Ruqyah, jampi-jampi kesyirikan dan tiwalah (pelet)

Berdasarkan hadis, “Sesungguhnya ruqyah, jimat, dan tiwalah, itu syirik.” (HR. Abu Daud dan Ibnu Majah)([26])

Tiwalah adalah sesuatu yang mereka buat dan mereka klaim bisa membuat seorang wanita dicintai oleh suaminya (pelet).

  • Menyembelih hewan di tempat-tempat kesyirikan

Ini berdasarkan sabda Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam ketika ditanya tentang seorang laki-laki yang bernazar akan menyembelih unta di Buwānah (nama tempat), “Apakah di sana ada salah satu patung jahiliah yang disembah?” Mereka menjawab, “Tidak.” Maka Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apakah di sana merupakan tempat salah satu perayaan mereka?” Mereka menjawab, “Tidak.” Maka Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Penuhilah nazarmu.”  (HR. Abu Daud)([27])

  • Taṭayyur (menggantungkan nasib pada pergerakan burung) dan Tasyā`um (pesimis karena sebuah benda yang dilihat)

Ini berdasarkan hadis Ibnu Mas’ud raḍiyallāhu ‘anhu secara marfuk, “Ṭiyarah itu adalah syirik. Ṭiyarah itu adalah syirik.” (HR Abu Daud dan Ibnu Majah) ([28])

Secara umum, orang yang menetapkan sesuatu sebagai sebab yang tidak disebutkan secara nas oleh Allah bahwa itu adalah sebab, baik secara indrawi ataupun syar’i, maka dia telah terjerumus kedalam kesyirikan, atau mendekati pintu kesyirikan.


([1])  HR. Bukhari nomor 52, dan Muslim nomor 1599, dari hadis An-Nu’mān bin Basyīr raḍiyallāhu ‘anhumā.

([2])  HR. Muslim nomor 35, dari hadis Abu Hurairah raḍiyallāhu ‘anhu.

([3])  HR. Bukhari nomor 2654, dan Muslim nomor 87, dari hadis Abu Hurairah raḍiyallāhu ‘anhu.

([4])  HR. Bukhari nomor 4477, dan Muslim nomor 86, dari hadis Abdullah bin Mas’ud raḍiyallāhu ‘anhu. Dalam riwayat itu disebutkan bahwa penanya adalah Abdullah bin Mas’ud raḍiyallāhu ‘anhu.

([5])  HR. Bukhari nomor 1399, dan Muslim nomor 20, dari hadis Abu Hurairah raḍiyallāhu ‘anhu. Bukhari juga meriwayatkannya di nomor 25, dan Muslim di nomor 22, dari hadis Ibnu Umar raḍiyallāhu ‘anhumā dengan penambahan penyebutan salat dan zakat.

([6])  HR. Ahmad nomor 1851, 3248, Nasa`i nomor 3059, dan Ibnu Majah nomor 3029, dari hadis Ibnu Abbas raḍiyallāhu ‘anhumā.

([7])  HR. Bukhari nomor 3445, dari hadis Umar raḍiyallāhu ‘anhu.

([8])  HR. Bukhari nomor 1010, melalui jalur Anas raḍiyallāhu ‘anhu, dari Umar raḍiyallāhu ‘anhu.

([9])  HR. Bukhari nomor 435, 436, 1390, dan Muslim nomor 529, 531.

([10]) HR. Muslim nomor 532, dari hadis Jundub raḍiyallāhu ‘anhu.

([11]) HR. Muslim nomor 696.

([12]) HR. Muslim nomor 970.

([13]) HR. Bukhari nomor 1189, dan Muslim nomor 1397, dari hadis Abu Hurairah raḍiyallāhu ‘anhu.

([14]) HR. Abu Daud nomor 2042, dari hadis Abu Hurairah raḍiyallāhu ‘anhu.

([15]) HR. Bukhari nomor 5892, dan Muslim nomor 259, dari hadis Ibnu Umar raḍiyallāhu ‘anhumā.

([16]) HR. Muslim nomor 260, dari hadis Abu Hurairah raḍiyallāhu ‘anhumā.

([17]) HR. Abu Daud nomor 652, dari hadis Syaddād bin Aus raḍiyallāhu ‘anhu.

([18]) HR. Bukhari nomor 434, dan Muslim nomor 529. Redaksi ini milik Bukhari.

([19]) HR. Abu Daud nomor 3251, dan Tirmizi nomor 1535. Redaksi ini milik Tirmizi.Keduanya dari hadis Ibnu Umar raḍiyallāhu ‘anhumā.

([20]) HR. Nasa`i di As-Sunan Al-Kubra nomor 10579, dari hadis Ibnu Abbas raḍiyallāhu ‘anhumā.

([21]) HR. Bukhari nomor 846, dan Muslim nomor 71, dari hadis Zaid bin Khālid Al-Juhaniy raḍiyallāhu ‘anhu.

([22]) HR. Ahmad nomor 20000, Ibnu Majah nomor 3531, dan Ibnu Hibban dalam kitab sahihnya nomor 6058.

([23]) HR. Ahmad nomor 17404, Ibnu Hibban nomor 6086, dan Hakim di kitab Al-Mustadrak nomor 7708, dari hadis ‘Uqbah bin ‘Āmir raḍiyallāhu ‘anhu.

([24]) HR. Ahmad nomor 17422, dan Hakim di kitab Al-Mustadrak nomor 7720, dari hadis ‘Uqbah bin ‘Āmir raḍiyallāhu ‘anhu.

([25]) HR. Bukhari nomor 3005, dan Muslim nomor 2115, dari hadis Abu Basyīr Al-Anṣāriy raḍiyallāhu ‘anhu.

([26]) HR Abu Daud nomor 3883, dan Ibnu Majah nomor 3530, dari hadis Ibnu Mas’ud raḍiyallāhu ‘anhu.

([27]) HR. Abu Daud nomor 3313, dari hadis Ṡābit bin Aḍ-Ḍahhāk raḍiyallāhu ‘anhu. Hadis ini juga diriwayatkan oleh Ibnu Majah nomor 2130, dari hadis Ibnu Abbas raḍiyallāhu ‘anhumā.

([28]) HR. Abu Daud nomor 3910, dan Ibnu Majah nomor 3538.

Baca Sebelumnya…

Seberapa baik artikel ini?

Klik pada bintang untuk memberi peringkat!

Penilaian rata-rata 5 / 5. Jumlah suara: 1

Jadilah yang pertama menilai artikel ini.

Karena Anda menilai artikel ini bermanfaat ...

Mohon bagikan artikel ini!

Kami mohon maaf karena Anda tidak terlalu menyukai artikel ini!

Kami akan berusaha meningkatkan artikel ini

Bagaimana kami dapat meningkatkan artikel ini?

Artikel Terkait

Tambahkan Komentar