Iman Kepada Hari Akhir

Iman Kepada Hari Akhir

IMAN KEPADA HARI AKHIR

Yaitu keyakinan yang kuat bahwa Allah Ta’ālā menangguhkan para hamba sampai hari mereka dibangkitkan dari kuburnya, dan Dia akan menghisab (memperhitungkan) amalan mereka serta membalasnya, bisa jadi dengan surga atau neraka.

Allah Ta’ālā berfirman,

“Sesungguhnya Allah menangguhkan mereka sampai hari yang pada waktu itu mata (mereka) terbelalak.” (QS. Ibrāhīm: 42)

Jasa Pembuatan Website
Jasa Pembuatan Website

 “Orang-orang yang kafir mengira, bahwa mereka tidak akan dibangkitkan. Katakanlah (Muhammad), ‘Tidak demikian, demi Tuhanku, kamu pasti dibangkitkan, kemudian diberitakan semua yang telah kamu kerjakan.’ Dan yang demikian itu mudah bagi Allah.” (QS. At-Tagābun: 7)

“Dan pada hari (ketika) terjadi kiamat, pada hari itu manusia terpecah-pecah (dalam kelompok). Maka adapun orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, maka mereka di dalam taman (surga) bergembira. Dan adapun orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami serta (mendustakan) pertemuan hari akhirat, maka mereka tetap berada dalam azab (neraka).” (QS. Ar-Rūm: 14-16)

Di antara perkara yang termasuk dalam keimanan dengan hari Akhir adalah:

Pertama: Beriman pada apa yang akan terjadi setelah kematian

Di antaranya melihat malaikat ketika sedang mengalami kematian; fitnah kubur yang terjadi dengan pertanyaan dua malaikat terhadap manusia tentang Tuhannya, agamanya, dan nabinya; azab kubur atau kenikmatannya; serta apa yang akan dialami manusia di kehidupan barzakh.

Allah Ta’ālā berfirman,

“Dan sekiranya kamu melihat ketika para malaikat mencabut nyawa orang-orang yang kafir sambil memukul wajah dan punggung mereka (dan berkata), ‘Rasakanlah olehmu siksa neraka yang membakar.'” (QS. Al-Anfāl: 50)

 “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan, ‘Tuhan kami adalah Allah’ kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka maka malaikat-malaikat akan turun kepada mereka (dengan berkata), ‘Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu bersedih hati; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) Surga yang telah dijanjikan kepadamu.'” (QS. Fuṣṣilat: 30)

 “Sedangkan Firaun beserta kaumnya dikepung oleh azab yang sangat buruk. Kepada mereka diperlihatkan neraka, pada pagi dan petang, dan pada hari terjadinya Kiamat. (Lalu kepada malaikat diperintahkan), ‘Masukkanlah Firaun dan kaumnya kedalam azab yang sangat keras!'” (QS. Gāfir: 45-46)

Diriwayatkan dari Anas bin Malik raḍiyallāhu ‘anhu, dari Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Jika seorang hamba (jenazahnya) sudah diletakkan di dalam kuburnya dan teman-temannya sudah meninggalkannya, dan dia dapat mendengar suara sandal-sandal mereka, maka akan datang kepadanya dua malaikat. Keduanya akan mendudukkannya seraya berkata kepadanya, ‘Apa yang kamu ketahui tentang laki-laki ini, Muhammad ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam?’ Apabila dia seorang mukmin maka dia akan menjawab, ‘Aku bersaksi bahwa dia adalah hamba Allah dan Rasul-Nya.’ Maka dikatakan kepadanya, ‘Lihatlah tempat dudukmu di neraka yang telah Allah ganti dengan tempat duduk di surga.’ Maka dia dapat melihat keduanya. Adapun (jenazah) orang munafik dan kafir maka akan dikatakan kepadanya, ‘Apa yang kamu ketahui tentang laki-laki ini (Muhammad)?’ Maka dia akan menjawab, ‘Aku tidak tahu. Aku hanya berkata mengikuti apa yang dikatakan manusia.’ Maka dikatakan kepadanya, ‘Kamu tidak mengetahuinya dan tidak mengikuti orang yang mengerti.’ Kemudian dia dipukul dengan palu dari besi satu kali pukulan sehingga dia berteriak yang dapat didengar oleh yang ada di sekitarnya kecuali oleh dua makhluk (jin dan manusia).” (Muttafaq ‘alaihi)([1])

Dan diriwayatkan dari Ibnu Abbas raḍiyallāhu ‘anhumā, dia berkata, “Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam melewati dua kuburan, kemudian bersabda, ‘Sesungguhnya kedua orang ini sedang disiksa, dan keduanya tidak disiksa karena persoalan besar (dalam pandangan manusia). Adapun salah seorangnya adalah karena dia tidak menyucikan diri dari kencingnya. Dan orang satu lagi karena dia berjalan mengadu domba.’ Kemudian beliau mengambil pelepah kurma yang masih basah, lalu membelahnya menjadi dua bagian, dan menancapkan masing-masingnya di tiap kuburan. Para sahabat berkata, ‘Wahai Rasulullah! Kenapa Anda melakukan ini?’ Beliau menjawab, “Mudah-mudahan hal itu bisa meringankan azab mereka selama keduanya belum kering.'” (Muttafaq ‘alaihi)([2])

Kedua: Beriman kepada hari Kiamat dan tanda-tandanya

Allah Ta’ālā berfirman,

“Allah yang menurunkan Kitab (Al-Qur`ān) dengan (membawa) kebenaran dan neraca (keadilan). Dan tahukah kamu, boleh jadi hari kiamat itu sudah dekat? Orang-orang yang tidak percaya adanya hari kiamat meminta agar hari itu segera terjadi, dan orang-orang yang beriman merasa takut kepadanya dan mereka yakin bahwa kiamat itu adalah benar (akan terjadi). Ketahuilah bahwa sesungguhnya orang-orang yang membantah tentang terjadinya kiamat itu benar-benar telah tersesat jauh.” (QS. Asy-Syūrā: 17-18)

Dan berfirman,

Maka apa lagi yang mereka tunggu-tunggu selain hari kiamat, yang akan datang kepada mereka secara tiba-tiba, karena tanda-tandanya sungguh telah datang. Maka apa gunanya bagi mereka kesadaran mereka itu, apabila (hari kiamat) itu sudah datang? (QS. Muḥammad: 18)

Dan di antara tanda-tanda Kiamat Kubra adalah apa yang disebutkan dalam sabda Rasulullah ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam, “Tidak akan terjadi Kiamat sehingga kalian melihat sebelumnya sepuluh tanda.” Beliau menyebutkan, “Asap, Dajal, hewan melata, matahari terbit dari barat, turunnya Isa bin Maryam, Yakjuj dan Makjuj, tiga penenggelaman (bumi): penenggelaman di timur, penenggelaman di barat, dan penenggelaman di Jazirah Arab, dan terakhirnya adalah api keluar dari Yaman yang menggiring manusia ke tempat mereka berkumpul.” (HR. Muslim)([3])

Kedatangan kiamat itu tiba-tiba dan sangat cepat. Allah Ta’ālā berfirman,

“Mereka menanyakan kepadamu (Muhammad) tentang Kiamat, ‘Kapan terjadi?’ Katakanlah, ‘Sesungguhnya pengetahuan tentang Kiamat itu ada pada Tuhanku; tidak ada (seorang pun) yang dapat menjelaskan waktu terjadinya selain Dia. (Kiamat) itu sangat berat (huru haranya bagi makhluk) yang di langit dan di bumi, tidak akan datang kepadamu kecuali secara tiba-tiba.’ Mereka bertanya kepadamu seakan-akan engkau mengetahuinya. Katakanlah (Muhammad), ‘Sesungguhnya pengetahuan tentang (hari Kiamat) ada pada Allah, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.'” (QS. Al-A’rāf: 187)

Juga berfirman,

“Urusan kejadian Kiamat itu, hanya seperti sekejap mata atau lebih cepat (lagi).” (QS. An-Naḥl: 77)

Kiamat itu terjadi dengan tiupan sangkakala kematian. Allah Ta’ālā berfirman,

“Dan sangkakala pun ditiup maka matilah semua (makhluk) yang di langit dan di bumi kecuali siapa yang dikehendaki Allah.” (QS. Az-Zumar: 68)

Ketiga: Beriman terhadap kebangkitan

Yaitu Allah Ta’ālā mengeluarkan para hamba dari kuburan mereka dalam keadaan hidup, telanjang kaki tanpa sandal, telanjang badan tanpa pakaian, belum dikhitan, tanpa memakai apa pun. Ini terjadi setelah tiupan sangkakala kedua. Allah Ta’ālā berfirman,

“Kemudian ditiup sekali lagi (sangkakala itu), maka seketika itu mereka bangun (dari kuburnya) menunggu (keputusan Allah).” (QS. Az-Zumar: 68)

Dan berfirman,

“Lalu ditiuplah sangkakala, maka seketika itu mereka keluar dari kuburnya (dalam keadaan hidup), menuju kepada Tuhannya.” (QS. Yāsīn: 51)

Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Manusia dikumpulkan pada hari kiamat dalam keadaan telanjang kaki, telanjang badan, dan tidak dikhitan.” (Muttafaq ‘alaihi)([4])

Keempat: Beriman  terhadap kondisi yang terjadi di hari Kiamat

Allah Ta’ālā berfirman,

“(Yaitu) pada hari (ketika) semua orang bangkit menghadap Tuhan seluruh alam.” (QS. Al-Muṭaffifīn: 6)

Kejadian-kejadiannya yaitu: manusia berdiri lama menghadap kepada Tuhan semesta alam di area Kiamat, mereka diperdengarkan suara penyeru, bisa dilihat oleh pandangan, matahari mendekat kepada mereka, keringat menenggelamkan mereka, mendatangi Al-Ḥau (telaga), penyebaran catatan amal, peletakan timbangan, peletakan sirat, dan kondisi-kondisi lain yang sangat menakutkan.

Kelima: Beriman terhadap adanya hisab

Allah Ta’ālā berfirman,

“Sungguh, kepada Kamilah mereka kembali, kemudian sesungguhnya (kewajiban) Kamilah membuat perhitungan atas mereka.” (QS. Al-Gāsyiyah: 25-26)

 “Maka adapun orang yang catatannya diberikan dari sebelah kanannya, maka dia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah.” (QS. Al- Insyqāq: 7-8)

 “Maka barang siapa mengerjakan kebajikan seberat zarah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barang siapa mengerjakan kejahatan seberat zarah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.” (QS. Az-Zalzalah: 7-8)

 “Dan Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari Kiamat, maka tidak seorang pun dirugikan walau sedikit; sekali pun hanya seberat biji sawi, pasti Kami akan mendatangkannya (pahala). Dan cukuplah Kami yang membuat perhitungan.” (QS. Al-Anbiyā`: 47)

Hisab (perhitungan amal) para makhluk ada dua macam:

a. Hisab orang-orang mukmin

Hisab ini bisa jadi berbentuk ‘arḍ (diperlihatkan amalannya), atau munāqasyah (ditanyakan). Adapun ‘arḍ (diperlihatkan amalannya) maka itu bagi orang-orang yang sudah Allah putuskan kebaikan baginya serta menjadi orang-orang yang berbahagia. Ini ditunjukkan oleh hadis Ibnu Umar raḍiyallāhu ‘anhumā bahwa Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah mendekatkan orang mukmin, kemudian Dia meletakkan penutup untuknya. Dia berfirman, ‘Apakah kamu tahu dosa ini? Apakah kamu tahu dosa ini?’ Orang itu menjawab, ‘Ya, wahai Tuhanku.’ Hingga apabia dia sudah mengakui dosa-dosanya, dan dia merasa bahwa dia pasti celaka, maka Allah berfirman, ‘Aku telah menutupi dosa-dosa itu di dunia, dan Aku mengampuninya untukmu hari ini. Maka dia pun diberikan kitab kebaikannya.” (Muttafaq ‘alaihi)([5])

Adapun hisab munāqasyah (yang ditanyakan) maka ini berlaku bagi pelaku dosa-dosa besar dari kalangan orang-orang yang bertauhid, yaitu orang-orang yang Allah inginkan untuk diazab di neraka karena dosa-dosa mereka, sementara tempat kembalinya adalah surga. Ini ditunjukkan oleh hadis Aisyah raḍiyallāhu ‘anhā bahwasanya Rasulullah ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak ada seorang pun yang dihisab pada hari kiamat melainkan pasti celaka.” Aku berkata, “Wahai Rasulullah, bukankah Allah Ta’ālā telah berfirman, ‘Adapun orang yang diberikan kitabnya dari sebelah kanannya, maka dia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah?’ Maka Rasulullah ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Itu adalah (hisab) ‘arḍ (diperlihatkan amalannya). Dan tidaklah seseorang didebat (munāqasyah) hisabnya pada hari kiamat melainkan dia akan diazab.” (Muttafaq ‘alaihi)([6])

b. Hisab orang-orang kafir

Mereka tidak dihisab dengan hisab perbandingan antara kebaikan dan kejahatan, karena mereka tidak memiliki kebaikan. Allah Ta’ālā berfirman,

“Dan Kami akan perlihatkan segala amal  yang mereka kerjakan, lalu Kami akan jadikan amal itu (bagaikan) debu yang beterbangan.” (QS. Al-Furqān: 23).

Tetapi mereka diperlihatkan amalan mereka, dan mereka mengakuinya. Dalam lanjutan hadis Ibnu Umar sebelumnya disebutkan, “Adapun orang kafir dan munafik, maka mereka dipanggil di hadapan para makhluk, ‘Orang-orang inilah yang telah berbohong terhadap Tuhan mereka. Ingatlah, laknat Allah (ditimpakan) kepada orang yang zalim.'” (QS. Hūd: 18) (Muttafaq ‘alaihi)([7])

Keenam: Beriman  terhadap pembalasan

Yaitu beriman bahwasanya surga itu benar dan neraka itu benar. Surga merupakan tempat tinggal yang Allah siapkan sebagai balasan bagi hamba-hamba-Nya yang bertakwa. Di dalamnya terdapat berbagai macam kenikmatan ḥissiy (sensual/bisa dirasakan indra) dan maknawi (psikologis), kenikmatan yang belum pernah dilihat oleh mata, belum pernah didengar oleh telinga, dan tidak pernah terlintas dalam hati manusia.

Sementara itu neraka adalah tempat kembali yang Allah siapkan sebagai balasan bagi orang-orang kafir. Di dalamnya terdapat berbagai jenis azab ḥissiy (sensual/bisa dirasakan indra) dan maknawi (psikologis) juga.

Allah Ta’ālā berfirman,

“Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menzalimi diri sendiri, ada yang pertengahan, dan ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan  dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang besar. (Mereka akan mendapatkan) surga ‘Adn, mereka masuk ke dalamnya, di dalamnya mereka diberi perhiasan gelang-gelang dari emas dan mutiara, dan pakaian mereka di dalamnya adalah sutra. Dan mereka berkata, ‘Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan kesedihan dari kami. Sungguh, Tuhan kami benar-benar Maha Pengampun, Maha Mensyukuri, Yang dengan karunia-Nya menempatkan kami dalam tempat yang kekal (surga); di dalamnya kami tidak merasa lelah dan tidak pula merasa lesu.’ Dan orang-orang yang kafir, bagi mereka neraka Jahanam. Mereka tidak dibinasakan hingga mereka mati, dan tidak diringankan dari mereka azabnya. Demikianlah Kami membalas setiap orang yang sangat kafir. Dan mereka berteriak di dalam neraka itu, ‘Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami (dari neraka), niscaya kami akan mengerjakan kebajikan, yang berlainan dengan yang telah kami kerjakan dahulu.’ (Dikatakan kepada mereka), ‘Bukankah Kami telah memanjangkan umurmu untuk dapat berpikir bagi orang yang mau berpikir, padahal telah datang kepadamu seorang pemberi peringatan? Maka rasakanlah (azab Kami), dan bagi orang-orang zalim tidak ada seorang penolong pun.'” (QS. Fāṭir: 32-37)

Baca Setelahnya…

Baca Sebelumnya…


([1])  HR. Bukhari nomor 1374, dan Muslim nomor 2870.

([2])  HR Bukhari nomor 218 dan Muslim nomor 292.

([3])HR. Muslim nomor 2901, dari hadis Huzaifah raḍiyallāhu ‘anhu.

([4])  HR. Bukhari nomor 3349, dan Muslim nomor 2860, dari hadis Ibnu Abbas raḍiyallāhu ‘anhumā. Bukhari juga meriwayatkan di nomor 6527, dan Muslim di nomor 2859 dari hadis Aisyah raḍiyallāhu ‘anhā.

([5])  HR. Bukhari nomor 2441, dan Muslim nomor 2768.

([6])  HR. Bukhari nomor 6537, dan Muslim nomor 2876.

([7])  HR. Bukhari nomor 2441, dan Muslim nomor 2768.

Berlanggan Artikel Mutiara Dakwah

Berlangganlah secara gratis untuk mendapatkan email artikel terbaru dari situs isi.

Artikel Terkait

Tambahkan Komentar