Iman Kepada Allah – Iman Terhadap Keberadaan-Nya

Panduan Praktis Akidah Berdasarkan Al-Qur`ān dan Sunnah 2 (1)

PANDUAN PRAKTIS AKIDAH

 BERDASARKAN AL-QUR`ĀN DAN SUNNAH

Pondasi akidah Islam adalah iman kepada Allah, para malaikat, kitab-kitab, para rasul, hari akhir, dan takdir baik serta buruk.

Allah Ta’ālā berfirman,

“Tetapi kebajikan itu ialah (kebajikan) orang yang beriman kepada Allah, hari akhir, malaikat-malaikat, kitab-kitab, dan nabi-nabi.” (QS. Al-Baqarah: 177)

 “Rasul (Muhammad) beriman kepada apa yang diturunkan kepadanya (Al-Qur`ān) dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semua beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya.”(QS. Al-Baqarah: 285)

 “Wahai orang-orang yang beriman! Tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya (Muhammad) dan kepada kitab (Al-Qur`ān) yang diturunkan kepada Rasul-Nya, serta kitab yang diturunkan sebelumnya. Barang siapa ingkar kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari kemudian, maka sungguh, orang itu telah tersesat sangat jauh.” (QS. An-Nisā`: 136)

 “Sungguh, Kami menciptakan segala sesuatu menurut takdir (ukuran).” (QS. Al-Qamar: 49)

Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam juga berkata kepada Jibril ‘alaihissalām ketika dia bertanya kepada beliau tentang iman, “Engkau beriman kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para rasul-Nya, hari akhir (kiamat), dan engkau beriman dengan takdir baik dan buruk.”  (HR. Muslim).([1])

IMAN KEPADA ALLAH

Iman kepada Allah adalah keyakinan yang kuat dengan keberadaan Allah subḥānahu, dan bahwasanya Dia adalalah Tuhan segala sesuatu, Dia semata yang berhak untuk disembah, tidak ada selain-Nya, Dia memiliki sifat-sifat kesempurnaan, dan disucikan dari segala sifat kekurangan.

Iman kepada Allah mengandung empat hal:

Pertama: Iman terhadap keberadaan-Nya

Keberadaan Allah Subḥānahu wa Ta’ālā adalah kebenaran yang paling hakiki: “Demikianlah (kebesaran Allah), karena Allah Dialah (Tuhan) Yang Hak. Dan apa saja yang mereka seru selain Dia, itulah yang batil, dan sungguh Allah, Dialah Yang Mahatinggi, Mahabesar.” (QS. Al-Ḥajj: 62).

Meragukan keberadaan-Nya merupakan sebuah kedustaan dan kemungkaran: Rasul-rasul mereka berkata, “Apakah ada keraguan terhadap Allah, Pencipta langit dan bumi? Dia menyeru kamu (untuk beriman) agar Dia mengampuni sebagian dosa-dosa kamu dan menangguhkan (siksaan) kamu sampai waktu yang ditentukan?” (QS. Ibrāhīm: 10)

Mengingkari keberadaan-Nya merupakan kesombongan, kezaliman dan kekufuran: Dia (Musa) menjawab, “Sungguh, engkau telah mengetahui bahwa tidak ada yang menurunkan (mukjizat-mukjizat) itu kecuali Tuhan (yang memelihara) langit dan bumi sebagai bukti-bukti yang nyata; dan sungguh, aku benar-benar menduga engkau akan binasa, wahai Firaun.” (QS. Al-Isrā`: 102)

Dan Allah Ta’ālā berfirman,

Firaun bertanya, “Siapa Tuhan seluruh alam semesta itu?” Dia (Musa) menjawab, “Tuhan Pencipta langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya (itulah Tuhanmu), jika kamu mempercayai-Nya. Dia (Firaun) berkata kepada orang-orang di sekelilingnya, “Apakah kamu tidak mendengar (apa yang dikatakannya)?” Dia (Musa) berkata, “(Dia) Tuhanmu dan juga Tuhan nenek moyangmu terdahulu.” Dia (Firaun) berkata, “Sungguh, Rasulmu yang diutus kepada kamu benar-benar orang gila.” Dia (Musa) berkata, “(Dialah) Tuhan (yang menguasai) timur dan barat dan apa yang ada di antara keduanya; jika kamu mengerti.” Dia (Firaun) berkata, “Sungguh, jika engkau menyembah Tuhan selain aku, pasti aku masukkan engkau ke dalam penjara.” (QS. Asy-Syu’arā`: 23-29)

Keberadaan Allah Subḥānahu wa Ta’ālā ditunjukkan oleh beberapa hal, di antaranya:

1. Fitrah yang Lurus

Fitrah yang lurus adalah kondisi di mana anak cucu Adam diciptakan tanpa perlu pembelajaran sebelumnya.

Allah Ta’ālā berfirman,

“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Islam); (sesuai) fitrah Allah disebabkan Dia telah menciptakan manusia menurut (fitrah) itu. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah. (Itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS. Ar-Rūm: 30)

Dan Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Tidak ada anak yang dilahirkan melainkan dia dilahirkan di atas fitrah. Maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.” (HR. Bukhari).

Dan dalam riwayat Muslim,

“Tidak ada anak yang dilahirkan melainkan dia dilahirkan di atas agama (Islam).”

Dalam riwayatnya yang lain,

“kecuali di atas agama ini, hingga lidahnya menjelaskan (mengungkapkannya).”

Dalam riwayatnya yang lain,

“Tidak ada anak yang dilahirkan melainkan di atas fitrah ini, hingga lidahnya mengungkapkannya.”([2])

Setiap makhluk yang tetap di atas fitrahnya yang asli akan mendapati dalam jiwanya keimanan dengan keberadaan Allah, kecuali apabila fitrah tersebut sudah digerogoti oleh hal-hal yang merusaknya. Allah Ta’ālā berfirman dalam hadis qudsi, “Sesungguhnya Aku menciptakan hamba-hamba-Ku dalam kondisi lurus semuanya, dan mereka didatangi oleh para setan, lalu para setan tersebut menggelincirkan mereka dari agama mereka.” (HR. Muslim)([3])

Bisa jadi fitrah tersebut dikotori oleh hijab (penghalang) berupa syubhat dan syahwat, akan tetapi dia akan muncul sesuai dengan hakikatnya pada waktu-waktu musibah dan kritis. Allah Ta’ālā berfirman,

“Maka apabila mereka naik kapal, mereka berdoa kepada Allah dengan penuh rasa pengabdian (ikhlas) kepada-Nya, tetapi ketika Allah menyelamatkan mereka sampai ke darat, malah mereka (kembali) menyekutukan (Allah).” (Al-‘Ankabūt: 65)

2. Akal Sehat

Yaitu akal yang selamat dari berbagai syubhat dan syahwat. Akal tersebut meyakini bahwa semua makhluk ini pasti ada penciptanya, karena tidak mungkin semua itu terjadi secara kebetulan tanpa pencipta, dan mereka juga tidak mungkin menciptakan diri mereka sendiri, karena ketiadaan tidak akan bisa memunculkan sesuatu yang ada. Maka oleh karena itu pasti ada pencipta yang mengadakannya, dan itu adalah Allah Subḥānahu wa Ta’ālā.

Ketika Jubair bin Muṭ’im menjadi salah seorang tawanan Rasulullah ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam dalam perang Badar, waktu itu dia masih musyrik, dia mendengar Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam membaca surah Aṭ-Ṭūr dalam salat Magrib. Ketika beliau sampai di ayat ini: “Atau apakah mereka tercipta tanpa asal-usul ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)? Ataukah mereka telah menciptakan langit dan bumi itu? Sebenarnya mereka tidak meyakini (apa yang mereka katakan). Ataukah di sisi mereka ada perbendaharaan Tuhanmu ataukah mereka yang berkuasa?” (QS. Aṭ-Ṭūr: 35-37), dia berkata, “Hampir saja hatiku terbang (ketika mendengarnya).” (HR. Bukhari).([4]) Itu merupakan saat pertama kali keimanan masuk ke dalam hatinya.

Orator Arab pada zaman jahiliah, Qais bin Sā’idah Al-Iyādiy, berdalil dengan akal sehat ini dengan mengatakan, “Kotoran unta menunjukkan adanya unta, jejak menunjukkan adanya perjalanan. Maka langit yang penuh bintang, dan bumi yang punya lembah, apakah semua itu tidak menunjukkan adanya Pencipta yang Maha Mengetahui?”

3. Kejadian-kejadian yang Terlihat

Allah Ta’ālā berfirman,

“Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kebesaran) Kami di segenap penjuru dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al-Qur`ān itu adalah benar.” (QS. Fuṣṣilat: 53)

Dan ia memiliki banyak bentuk, di antaranya adalah mukjizat para nabi, keramat para wali dan orang-orang saleh, serta pengabulan terhadap doa orang-orang yang berdoa.

Allah Ta’ālā berfirman tentang Nabi-Nya, Nuh ‘alaihissalām,

“Maka dia (Nuh) mengadu kepada Tuhannya, ‘Sesungguhnya aku telah dikalahkan, maka tolonglah (aku).’ Lalu Kami bukakan pintu-pintu langit dengan (menurunkan) air yang tercurah, dan Kami jadikan bumi menyemburkan mata air-mata air, maka bertemulah air-air itu sehingga (meluap menimbulkan) keadaan (bencana) yang telah ditetapkan. Dan Kami angkut dia (Nuh) ke atas (kapal) yang terbuat dari papan dan pasak, yang berlayar dengan pengawasan Kami sebagai balasan bagi orang yang telah diingkari (kaumnya).” (QS. Al-Qamar: 10-14)

Dan Allah berfirman,

“Lalu Kami wahyukan kepada Musa, ‘Pukullah laut itu dengan tongkatmu.’ Maka terbelahlah lautan itu, dan setiap belahan seperti gunung yang besar. Dan di sanalah Kami dekatkan golongan yang lain. Dan Kami selamatkan Musa dan orang-orang yang bersamanya. Kemudian Kami tenggelamkan golongan yang lain. Sungguh, pada yang demikian itu terdapat suatu tanda (kekuasaan Allah), tetapi kebanyakan mereka tidak beriman.” (QS. Asy-Su’arā`: 63-67)

Allah Ta’ālā juga berfirman tentang Nabi-Nya, Isa ‘alaihissalām,

“Dan sebagai Rasul kepada Bani Israil, (dia berkata), ‘Aku telah datang kepada kamu dengan sebuah tanda (mukjizat) dari Tuhanmu, yaitu aku membuatkan bagimu (sesuatu) dari tanah berbentuk seperti burung, lalu aku meniupnya, maka ia menjadi seekor burung dengan izin Allah. Dan aku menyembuhkan orang yang buta sejak dari lahir dan orang yang berpenyakit kusta. Dan aku menghidupkan orang mati dengan izin Allah, dan aku beritahukan kepadamu apa yang kamu makan dan apa yang kamu simpan di rumahmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat suatu tanda (kebenaran kerasulanku) bagimu, jika kamu orang beriman.'”(QS. Āli ‘Imrān: 49)

Hal-hal seperti itu juga terjadi pada Nabi kita Muhammad ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam. Diriwayatkan dari Anas bin Malik raḍiyallāhu ‘anhu bahwa seorang laki-laki masuk ke dalam masjid pada hari Jumat melalui sebuah pintu ke arah Dār Al-Qaḍā`, ketika itu Rasulullah ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam sedang berdiri berkhotbah. Laki-laki tersebut berdiri menghadap Rasulullah ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam, kemudian ia berkata, “Wahai Rasulullah, harta-harta telah binasa dan jalan-jalan terputus (tidak ada yang bisa dilakukan lagi). Mintalah kepada Allah agar menurunkan hujan!” Rasulullah ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam lalu mengangkat kedua tangannya dan mengucapkan, “Ya Allah, berilah kami hujan! Ya Allah, berilah kami hujan! Ya Allah, berilah kami hujan!” Anas berkata, “Demi Allah, sebelum itu kami tidak melihat sedikit pun awan tebal maupun tipis (terpisah-pisah). Antara tempat kami dan gunung Sala’([5]) tidak terdapat rumah ataupun bangunan.” Anas melanjutkan, “Tapi tiba-tiba dari belakangnya tampaklah awan bagaikan perisai. Ketika sudah membumbung sampai ke tengah langit, awan pun menyebar dan hujan pun turun.” Anas berkata, “Demi Allah, sungguh kami tidak melihat matahari selama satu pekan.” Kemudian datang seorang laki-laki dari pintu yang sama pada hari Jumat setelahnya dan Rasulullah ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam sedang berdiri sambil berkhotbah. Laki-laki itu berdiri menghadap Rasulullah dan ia berkata, “Wahai Rasulullah, harta-harta telah binasa dan jalan-jalan terputus. Mintalah kepada Allah agar menahan hujan ini dari kita!” Anas berkata, “Maka Rasulullah ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam mengangkat kedua tangannya kemudian berdoa, “Ya Allah, turunkanlah hujan di sekitar kami, jangan yang merusak kami. Ya Allah! turunkanlah hujan di dataran tinggi, di bukit-bukit, di perut lembah dan tempat tumbuhnya pepohonan.” Anas berkata, “Maka hujan pun berhenti, sehingga kami keluar berjalan di bawah sinar matahari.” (Muttafaq ‘alaihi)([6])

Dan Allah ‘Azza wa Jalla berfirman secara umum,

“Bukankah Dia (Allah) yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila dia berdoa kepada-Nya, dan menghilangkan kesusahan dan menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah (pemimpin) di bumi? Apakah di samping Allah ada tuhan (yang lain)? Sedikit sekali (nikmat Allah) yang kamu ingat.” (QS. An-Naml: 62)

Mukjizat-mukjizat para rasul, pengabulan doa orang-orang yang berdoa, dan pertolongan terhadap orang-orang yang ditimpa musibah merupakan dalil-dalil yang bisa dilihat, telah disaksikan oleh beberapa kelompok orang. Ini semua menjadi saksi yang meyakinkan tentang keberadaan Allah Subḥānahu wa Ta’ālā yang mengutus mereka, mengabulkan doa mereka, dan menolong mereka.

4. Syariat yang Benar

Yaitu apa yang diungkapkan oleh Al-Qur`ān dan Sunnah yang sahih. Allah Ta’ālā berfirman,

“Maka tidakkah mereka menghayati (mendalami) Al-Qur`ān? Sekiranya (Al-Qur`ān) itu bukan dari Allah, pastilah mereka menemukan banyak hal yang bertentangan di dalamnya.” (QS. An-Nisā`: 82)

 “Wahai manusia! Sesungguhnya telah sampai kepadamu bukti kebenaran dari Tuhanmu (Muhammad dengan mukjizatnya), dan telah Kami turunkan kepadamu cahaya yang terang benderang (Al-Qur`ān).” (QS. An-Nisā`: 174)

 “Wahai manusia! Sungguh, telah datang kepadamu pelajaran (Al-Qur`ān) dari Tuhanmu, penyembuh bagi penyakit yang ada dalam dada, dan petunjuk serta rahmat bagi orang yang beriman.” (QS. Yūnus: 57).

 “Apakah tidak cukup bagi mereka bahwa Kami telah menurunkan kepadamu Kitab (Al-Qur`ān) yang dibacakan kepada mereka? Sungguh, dalam (Al-Qur`ān) itu terdapat rahmat yang besar dan pelajaran bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Al-‘Ankabūt: 51)

Apa pun yang terkandung di dalam Al-Qur`ān Al-‘Aẓīm berupa berita-berita gaib yang terealisasi, akidah-akidah yang benar, syariat-syariat yang adil, dan akhlak yang lurus merupakan dalil bahwa semua itu dari Allah, dan tidak mungkin datang dari selain-Nya.

Oleh karena itu, tidak ada satu orang pun anak keturunan Adam yang mengingkari keberadaan Allah secara hakiki. Namun ada beberapa kelompok ateis pada masa dahulu dan sekarang yang menonjolkan pengingkaran tersebut, seperti:

  • Ad-Dahriyyūn (Kelompok Skeptis)

Mereka adalah para filsuf Dahriyyah (Skeptik) yang mengatakan alam semesta itu qadīm (ada sejak dahulu dengan sendirinya) dan kekal. Pada masa sekarang, mereka serupa dengan orang-orang yang dikenal dengan sebutan penganut ateis modern.

Ad-Dahriyyūn adalah orang-orang yang mengatakan, “Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup, dan tidak ada yang membinasakan kita selain masa.” Tetapi mereka tidak mempunyai ilmu tentang itu, mereka hanyalah menduga-duga saja. (QS. Al-Jāṡiyah: 24).

Mereka mengklaim bahwa alam semesta ini berjalan sendiri, dan bahwasanya ia senantiasa ada dan akan tetap ada. Mereka mengatakan, “Perut senantiasa mengeluarkan, bumi senantiasa menelan, dan tidak ada yang membinasakan kita selain masa (waktu).” Mereka pun menafikan makhluk dari penciptanya. Allah sudah membantah mereka dengan mengatakan, Mereka tidak mempunyai ilmu tentang itu,” baik ilmu berupa logika maupun wayhu, juga tidak ada ilmu dari pengamatan serta fitrah, tetapi itu hanyalah perkiraan dan rekaan saja, Mereka hanyalah menduga-duga saja.”

  • At-Ṭabā`i’iyyūn (Kelompok Naturalis)

Mereka adalah orang-orang yang mengatakan bahwa alam semesta ini ada karena perbuatan/evolusi alam, maksudnya bahwa segala sesuatu yang ada di alam, seperti tumbuhan, hewan, atau benda mati beserta karakteristiknya menciptakan diri dan gerakannya sendiri. Bantahan terhadap mereka sangat intuitif (naluriah), yaitu: sesuatu itu tidak mungkin menjadi pencipta dan makhluk pada waktu bersamaan. Allah Ta’ālā berfirman, “Atau apakah mereka tercipta tanpa asal-usul ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)? (QS. Aṭ-Ṭūr: 35)

Ṭabī’ah (alam) yang mereka klaim menciptakan itu adalah sekelompok benda mati, tuli, buta, bisu, tidak memiliki perasaan dan naluri. Bagaimana bisa itu semua menciptakan makhluk yang bisa hidup, mendengar, melihat, berbicara, memiliki naluri, dan perasaan sakit serta harapan?! Orang yang tak memiliki sesuatu tentu tidak akan bisa memberikannya.

  • Aṣ-Ṣudfiyyūn

Mereka adalah orang-orang yang mengatakan bahwa semua yang ada ini tumbuh secara kebetulan semata. Artinya bahwa terkumpulnya atom dan partikel-partikel secara kebetulan (tiba-tiba) menyebabkan munculnya kehidupan, terbentuknya berbagai macam makhluk, tanpa ada pengaturan dan perencanaan sebelumnya. Untuk membantah dan menyangkal semua ini cukup dengan membayangkan klaim tersebut. Karena keakuratan penciptaan, sistemnya yang kreatif, keberlangsungannya dalam norma yang baku serta keseimbangan yang pasti menolak klaim kebetulan/tiba-tiba tersebut. Allah Ta’ālā berfirman,

“(Itulah) ciptaan Allah yang mencipta dengan sempurna segala sesuatu.” (QS. An-Naml: 88).

Dan Allah berfirman,

“Allah yang menciptakan tujuh langit dan dari (penciptaan) bumi juga serupa. Perintah Allah berlaku padanya, agar kamu mengetahui bahwa Allah Mahakuasa atas segala sesuatu, dan ilmu Allah benar-benar meliputi segala sesuatu.” (QS. Aṭ-Ṭalāq: 12)

  • Asy-Syuyū‘iyyūn (Kaum Ateis)

Mereka adalah para pengikut Karl Max yang mengatakan, “Tidak ada tuhan, dan kehidupan itu adalah materi.”

Ketika mereka mendirikan negara Uni Soviet di atas pondasi rapuh dan keyakinan yang batil ini maka dalam waktu singkat negara itu hancur dan bercerai berai menjadi negara-negara kecil.

  • Segelintir Orang yang Menyimpang

Seperti Firaun yang tampil mengingkari Tuhan dengan mengatakan, “Siapa Tuhan seluruh alam semesta itu?” (QS. Asy-Syu’arā`: 23). Kemudian dia mengklaim ketuhanan untuk dirinya dengan mengatakan, “Akulah tuhanmu yang paling tinggi.” (QS. An-Nāzi’āt: 24). Kemudian dia larut dalam hal itu sehingga mengklaim peribadatan untuk dirinya, dia berkata, “Aku tidak mengetahui ada Tuhan (untuk disembah) bagimu selain aku. (QS. Al-Qaṣaṣ: 38). Dia juga mengancam Musa ‘alaihissalām, dia berkata, “Sungguh, jika engkau menyembah Tuhan selain aku, pasti aku masukkan engkau ke dalam penjara.” (QS. Asy-Syu’arā`: 29).

Juga seperti Namrud yang mendebat Ibrahim tentang Tuhannya: “Ketika Ibrahim berkata, ‘Tuhanku ialah Yang menghidupkan dan mematikan.’ Dia berkata, ‘Aku pun dapat menghidupkan dan mematikan.’ Ibrahim berkata, ‘Allah menerbitkan matahari dari timur, maka terbitkanlah ia dari barat.’ Maka bingunglah orang yang kafir itu. Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Baqarah: 258)

Mereka semua itu kontradiktif terhadap diri mereka sendiri, mereka mengingkari fitrah mereka, sebagaimana hal itu Allah persaksikan terhadap mereka dengan firman-Nya,

“Dan mereka mengingkarinya karena kezaliman dan kesombongannya, padahal hati mereka meyakini (kebenaran)nya. Maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang berbuat kerusakan.” (QS. An-Naml: 14).

Oleh karena itu, maka mereka tidak bisa eksis dan tidak ada kelanjutan kekuasaannya.


([1])  HR. Muslim nomor 8, dari hadis Ibnu Umar raḍiyallāhu ‘anhu.

([2])  HR. Bukhari nomor 1358, dan Muslim nomor 2658, dari hadis Abu Hurairah raḍiyallāhu ‘anhu.

([3])  HR. Muslim nomor 2865, dalam hadis yang panjang dari ‘Iyāḍ bin Ḥimār Al-Mujāsyi’iy raḍiyallāhu ‘anhu.

([4])  HR. Bukhari nomor 3050, 4023, 4854.

([5])  Sala’ adalah nama sebuah gunung di Madinah.

([6])  HR. Bukhari nomor 1014, dan Muslim nomor 897.

Baca Sebelumnya….

Baca Setelahnya…

Seberapa baik artikel ini?

Klik pada bintang untuk memberi peringkat!

Penilaian rata-rata 5 / 5. Jumlah suara: 1

Jadilah yang pertama menilai artikel ini.

Karena Anda menilai artikel ini bermanfaat ...

Mohon bagikan artikel ini!

Kami mohon maaf karena Anda tidak terlalu menyukai artikel ini!

Kami akan berusaha meningkatkan artikel ini

Bagaimana kami dapat meningkatkan artikel ini?

Artikel Terkait

2 Komentar di artikel “Iman Kepada Allah – Iman Terhadap Keberadaan-Nya”

  1. Ummu khadijah

    Trima kasih tulisannya, bermanfaat utk bekal akhirat. Ditunggu tulisan selanjutnya.

Tambahkan Komentar