Hijrah ke Habasyah dan Upaya Pembunuhan Rasulullah

Hijrah ke Habasyah

Kaum Muslimin Hijrah ke Habasyah (Ethiopia)

Tekanan yang dilakukan orang-orang kafir terhadap kaum muslimin pada pertengahan dan akhir tahun keempat kenabian masih bersifat ringan. Namun memasuki pertengahan tahun kelima, perlakuan mereka semakin keras. Hal ini mendorong kaum muslimin untuk mencari tempat lain yang aman untuk menjaga agama mereka, dan akhirnya kaum muslimin-pun hijrah ke Habasyah.

Survei Behadiah Rp. 50.000
Survei Behadiah Rp. 50.000

Maka pada bulan Rajab tahun ke-5 kenabian, hijrahlah rombongan pertama dari kalangan sahabat ke negeri Habasyah (Ethiopia). Mereka berjumlah 12 orang laki-laki dan 4 orang wanita, dipimpin oleh Utsman bin Affan yang didampingi istrinya, Ruqayyah binti Rasulullah.

Hijrah yang mereka lakukan berlangsung dengan selamat, meskipun orang-orang kafir sempat mengejar mereka hingga ke tepi pantai, namun mereka sudah lebih dahulu berlayar ke negeri Habasyah. Di negeri tersebut mereka hidup dengan aman dan mendapat perlindungan dari penguasa Habasyah.

Pada bulan Syawal di tahun yang sama, mereka mendapat berita bahwa kaum Quraisy telah masuk Islam. Akhirnya mereka segera pulang kembali ke Mekkah. Namun, beberapa saat menjelang tiba di Mekkah, mereka baru tahu bahwa berita tersebut keliru. Akhirnya sebagian mereka kembali ke Habasyah dan sebagian lagi mencari perlindungan dari penduduk Mekkah.

Setelah itu, kekejaman kafir Quraisy terhadap kaum muslimin semakin menjadi-jadi. Rasulullah kembali mengizinkan para sahabat hijrah ke Habsyah untuk kedua kalinya. Maka berangkatlah rombongan kedua yang berjumlah 83 orang laki-laki dan 19 perempuan menuju Habasyah.

Tipu Daya Quraisy Terhadap Muhajirin Habasyah

Orang-orang kafir Quraisy sangat gusar ketika mengetahui bahwa kaum muslimin mendapatkan perlindungan yang aman di negeri Habasyah. Maka mereka mengutus dua orang yang cerdas dan gigih, ‘Amru bin Ash dan Abdullah bin Rabi’ah (sebelum mereka masuk Islam), dengan membawa aneka hadiah berharga.

Mereka berupaya membujuk raja Najasyi untuk memulangkan kaum muslimin ke suku Quraisy. Namun berkat kebijakan raja Najasyi dan kepiawaian para sahabat yang diwakili oleh Ja’far bin Abu Thalib sebagai juru bicara mereka dalam menerangkan hakikat Islam, akhirnya upaya orang-orang musyrik tersebut gagal total.

Upaya Quraisy Menghentikan Dakwah Rasulullah Lewat Pamannya, Abu Thalib

Berbagai cara telah diupayakan oleh kafir Quraisy untuk menghentikan dakwah Rasulullah, namun tidak ada yang berhasil.

Kemudian mereka menggunakan cara lainnya lewat pamannya, Abu Thalib, berupa ancaman untuk memerangi Rasulullah.

Karena ancaman tersebut dianggap serius, Abu Thalib segera mengutarakannya kepada Rasulullah. Melihat gejala pamannya mulai lemah dan tak kuat menanggung beban, maka dengan tegas Rasulullah mengatakan:

يا عمّ، والله لو وضعوا الشمس في يمينى والقمر في يساري على أن أترك هذا الأمر حتى يظهره الله، أو أهلك فيه ما تركته.

“Wahai pamanku, demi Allah, seandainya mereka letakkan matahari di tangan kananku, dan bulan di tangan kiriku untuk aku meninggalkan perkara (dakwah) ini -sampai Allah memenangkannya atau aku hancur bersamanya- niscaya aku tidak akan meninggalkannya.”

Mendengar jawaban tegas seperti itu, Abu Thalib kembali bersemangat melindungi keponakannya, diapun berkata:

“Pergilah wahai keponakanku, dan sampaikanlah apa yang kamu sukai. Demi Allah, aku tidak akan menyerahkanmu kepada siapa pun selama-lamanya.”

Di lain waktu, mereka kembali mendatangi Abu Thalib untuk menawarkan cara lain. Mereka datang dengan membawa seorang pemuda yang gagah dan tampan untuk diserahkan kepada Abu Thalib, dan sebagai gantinya dia harus menyerahkan Rasulullah kepada mereka untuk mereka bunuh. Tentu saja tawaran yang aneh tersebut ditolak mentah-mentah oleh Abu Thalib.

Ide Membunuh Rasulullah

Setelah berbagai kegagalan dialami oleh kaum kafir Quraisy. Akhirnya sampailah mereka pada keputusan untuk membunuh Rasululah. Disebutkan dalam beberapa riwayat tentang upaya-upaya dari tokoh-tokoh kafir Quraisy untuk membunuh Rasulullah.

Namun upaya-upaya merekapun menemukan kegagalan pula karena Allah selalu melindungi hamba yang paling dikasihi-­Nya tersebut.

Di antara riwayat yang terkenal dalam hal ini adalah upaya Abu Jahal yang hendak melemparkan batu jika Rasulullah sedang sujud dalam shalatnya.

Pada hari yang telah ditentukan, sebagaimana biasa, Rasulullah datang ke Ka’bah untuk shalat. Kemudian sebagaimana rencana semula, Abu Jahal mengambil sebongkah batu lalu menghampiri Rasulullah untuk menimpakan batu tersebut ke atas kepalanya.

Namun tak beberapa lama kemudian dia sudah kembali menemui kawan-kawannya dalam keadaan pucat pasi.

“Ada apa wahai Abulhakam (Abu Jahal)?”, tanya teman-temannya keheranan.

“Ketika aku akan melakukan rencanaku dan hampir mendekatinya, ternyata ada seekor onta yang sangat besar menghalangiku. Onta tersebut sangat besar. Belum pernah aku melihat onta sebesar dan seganas itu, hampir-hampir dia menerkamku,” jawab Abu Jahal.

Disadur dari buku: Ar-Raḥīq Al-Makhtūm

Baca Selanjutnya…

Baca Sebelumnya…

close

Assalamualaikum
Senang bertemu Anda
.

Berlangganlah secara GRATIS untuk menerima artikel yang luar biasa di email Anda, setiap ada artikel terbaru dari situs Kami.

British Propolis

Artikel Terkait

Tambahkan Komentar