Keringanan Bagi Seorang Musafir

3 menit waktu membaca

Daftar Isi

Pendahuluan

Islam memberikan berbagai keringanan bagi para pemeluknya dalam menjalankan berbagai aktifitas ibadah yang disyariatkannya. Rukhsah (keringanan) yang diberikan tersebut bisa jadi karena alasan kesulitan dalam mengerjakannya, atau karena alasan-alasan lain yang dijelaskan dalam syariat Islam itu sendiri.

Safar merupakan salah satu aktifitas yang Allah jadikan sebagai penyebab untuk mendapatkan rukhsah bagi para musafir. Pada pembahasan kali ini, kami akan menyebutkan keringanan bagi para musafir.

Keringanan-Keringanan Bagi Musafir

Berikut ini beberapa keringanan bagi para musafir:

1. Mengqasar salat, yaitu memotong salat yang empat rakaat menjadi dua rakaat saja. Seorang musafir yang menempuh perjalanan sekitar 85 km. Satu-satunya keadaan yang boleh meng-qasar salat hanyalah pada saat safar. Oleh karena itu, mengqasar salat selalu berkaitan dengan safar.

2. Menjamak salat, yaitu menggabungkan pelaksanaan dua salat di salah satu waktunya. Salat Zuhur bisa dijamak dengan salat Asar, kemudian salat Magrib dengan salat Isya di salah satu waktunya.

Bila dikerjakan di waktu salat pertama disebut jamak takdim. Bila dikerjakan di waktu salat kedua disebut jamak takhir.

3. Tidak berpuasa pada siang hari di bulan Ramadan jika sedang safar, dan menggantinya lagi di luar bulan Ramadan.

4. Mengerjakan salat sunah di atas kendaraan dengan menghadap ke arah yang dituju oleh kendaraan. Namun untuk salat wajib, pada asalnya dilakukan setelah turun dari kendaraan.

5. Mengusap sepatu, sorban dan semisalnya selama tiga hari tiga malam ketika berwudu. Ali bin Abi Thalib mengatakan:

جَعَلَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- ثَلاَثَةَ أَيَّامٍ وَلَيَالِيَهُنَّ لِلْمُسَافِرِ وَيَوْمًا وَلَيْلَةً لِلْمُقِيمِ

“Rasulullah ﷺ menjadikan tiga hari tiga malam (sebagai jangka waktu mengusap khuf bagi musafir), dan sehari semalam untuk mukim.” (HR. Muslim no. 276)

Khuf (sepatu bot) adalah sesuatu yang dipakai di kaki yang terbuat dari kulit dan semisalnya yang menutupi mata kaki. InsyaAllah akan kami terangkan pada artikel lainnya.

6. Bertayamum ketika tidak menemukan air, karena ketika safar, tayamum lebih dibutuhkan dibandingkan saat mukim saat tidak ditemukan air atau sulit menggunakan air.

7. Meninggalkan salat sunah rawatib ketika safar.

Ibnul Qayyim raḥimahullāh mengatakan, “Allah memberikan keringanan bagi musafir dengan menjadikan salat yang empat rakaat menjadi dua rakaat. Seandainya salat sunah rawatib sebelum dan sesudah salat fardu disyariatkan ketika safar, tentu mengerjakan salat fardu dengan sempurna (empat rakaat) lebih utama.” (Zādul Ma’ād, 1/298).

Namun, Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam masih melakukan salat sunah qabliyah subuh ketika bersafar. Begitu pula beliau ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam masih tetap mengerjakan salat witir.

Ibnul Qayyim raḥimahullāh mengatakan, “Termasuk di antara petunjuk Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam ketika bersafar adalah mengqasar salat fardu dan beliau tidak mengerjakan salat sunah rawatib qabliyah dan ba’diyah. Yang biasa tetap beliau lakukan adalah mengerjakan salat sunah witir dan salat sunah qabliyah subuh. Beliau tidak pernah meninggalkan kedua salat ini baik ketika bermukim dan ketika bersafar.” (Zādul Mā’ad, 1/456).

Adapun salat malam, salat Duha, salat tahiyyatul masjid dan salat sunah mutlak lainnya, masih boleh dilakukan ketika safar. (Lihat Sahih Fiqh Sunah, 1/490).

Meskipun orang yang bersafar mendapatkan keringanan seperti di atas, namun ia akan dicatat mendapatkan pahala seperti pahala ibadah yang rutin dia lakukan ketika mukim.

Ketika safar ia mengerjakan salat dua rakaat secara qasar, maka itu dicatat seperti mengerjakannya sempurna empat rakaat.

Itulah kemudahan yang Allah berikan bagi hamba-Nya. Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا مَرِضَ الْعَبْدُ أَوْ سَافَرَ كُتِبَ لَهُ مِثْلُ مَا كَانَ يَعْمَلُ مُقِيمًا صَحِيحًا

Jika seseorang sakit atau bersafar, maka dicatat baginya pahala sebagaimana ia mukim atau ketika ia sehat.” (HR. Bukhari no. 2996).

Semoga artikel kali ini tentang “Keringanan Bagi Seorang Musafir” bermanfaat.

Ditulis oleh Ustaz Muhammad Adam
Diambil dari website: mutiaradakwah.com
Share on print
Print Artikel

Berlanggan Artikel Mutiara Dakwah

Berlangganlah secara gratis untuk mendapatkan email artikel terbaru dari situs ini.

Cari Artikel

Generic selectors
Kata yang sama persis
Kata yang ada di judul
Kata yang ada di artikel
Filter Berdasarkan Kategori
Akhlak
Akidah
Al-Qur'an
Bahasa
Fatwa Ulama
Fikih
Hadis
Muamalah
Nasihat
Sirah
Tafsir
Tajwid

Cari Kategori

Sosmed

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on telegram
Telegram
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on email
Email

Tambahkan Komentar

Artikel Terkait

Apakah Anda Ingin Meningkatkan Bisnis Anda?

Tingkatkan dengan cara beriklan

Formulir anda berhasil dikirim, terimakasih

join mutiara dakwah

Subscribe agar anda mendapatkan artikel terbaru dari situs kami

join mutiara dakwah

Subscribe agar anda mendapatkan artikel terbaru dari situs kami

Mengkhatamkan Al-Qur`an Sebulan Sekali Pelajari Adab Sebelum Ilmu Kenapa Kita Harus Belajar Fikih Muamalat? Tata Cara Wudhu Yang Benar Pembagian Tauhid dan Maknanya Hukum Belajar Bahasa Inggris Kisah Rasulullah Hijrah Ke Madinah Mengajak Orang Lain Berbuat Baik, Tapi Lupa Diri Sendiri Hukum Hormat Kepada Bendera Hukum Bertawasul Dengan Amal Saleh Pengertian dan Contoh Mad Muttasil