Kisah Baiat Aqabah Kedua

3 menit waktu membaca

Daftar Isi

Baiat Aqabah Kedua

Pada musim haji tahun ke-13 kenabian. Kaum muslimin dari Madinah yang berjumlah tujuh puluhan, ikut dalam rombongan orang-orang musyrik untuk melakukan ibadah haji.

Setibanya di sana, mereka segera menghubungi Rasulullah ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam, lalu dengan rahasia sepakat bertemu di tengah hari-hari tasyriq di suatu lembah Aqabah dekat Jumrah ‘Ula di Mina untuk melakukan baiat.

Pada hari yang telah ditentukan, di tengah malam yang gelap gulita. Sambil mengendap-endap agar tidak diketahui rombongannya -kaum musyrikin- mereka pergi ke Lembah Aqabah. Mereka saat itu berjumlah tujuh puluh tiga orang laki-laki dan dua orang wanita; Nusaibah binti Ka’ab (Ummu ‘Ammarah) dan Asma binti Amr (Ummu Mani’). Sementara itu Rasulullah ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam datang bersama ‘Abbas bin Abdul-Muṭṭalib yang saat itu masih memeluk agama kaumnya, namun dengan senang hati dia turut menghadirinya.

Sebelum melakukan baiat, Jabir bertanya kepada Rasulullah ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam: “Ya Rasululullah, atas apa kami harus berbaiat?”

Rasulullah ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Kalian harus patuh dan taat, baik saat semangat maupun malas, harus bersedekah baik saat susah maupun senang, harus memerintah kepada yang makruf dan mencegah yang mungkar, harus berjuang di jalan Allah, dan jangan mundur walaupun hinaan orang, harus menolongku jika aku datang ke tempat kalian dan melindungiku sebagaimana kalian melindungi diri kalian dan anak istri kalian. Dan balasan bagi kalian adalah surga.”

Setelah masing-masing pihak memahami satu persatu isi baiat yang akan mereka ucapkan dan sadar akan konsekuensinya yang berat serta kesiapan mereka untuk melaksanakan baiat tersebut, maka mulailah satu persatu mereka berbaiat kepada Rasulullah ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam dengan cara berjabat tangan. Adapun terhadap kedua wanita yang turut serta dalam baiat tersebut, Rasulullah ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam cukup mengambil baiatnya dengan ucapan saja. Sebab Rasulullah tidak pemah sekalipun bersalaman dengan wanita yang bukan mahramnya.

Demikianlah baiat Aqabah kedua yang juga dikenal dengan Baiat Aqabah Al-Kubro berakhir dengan penuh persaudaraan dan komitmen yang teguh untuk saling membela Islam. Dari sinilah kekuatan Islam yang akan menggetarkan dunia sedang diayunkan.

12 Orang Naqīb (Kepala Regu)

Setelah baiat selesai dilaksanakan, Rasulullah ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam meminta kepada peserta baiat tersebut untuk menunjuk 12 orang di antara mereka sebagai pemimpin dan diserahkan tanggung jawab atas regunya masing-masing dalam melaksanakan isi baiat tersebut.

Maka segera saja mereka memilih dua belas orang tersebut, 11 orang dari suku Khazraj dan 3 orang dari Aus.

Setan Mengetahui Peristiwa Baiat

Pada detik-detik terakhir, setan mengetahui adanya baiat tersebut. Namun karena sempitnya waktu, tidak mungkin baginya menyampaikan hal itu kepada para pemimpin Quraisy secara rahasia agar mereka melakukan penyergapan mendadak. Akhirnya dia naik ke sebuah bukit lalu berteriak tentang pertemuan itu.

Rasulullah ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam yang mendengarkan teriakan setan tersebut segera memerintahkan para peserta baiat untuk kembali ke rombongannya. Pada awalnya mereka siap untuk menghadapi kaum musyrikin, namun Rasulullah ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam mengatakan bahwa beliau belum diperintahkan untuk itu. Lalu mereka kembali, dan tidur di tengah rombongannya hingga pagi.

Keesokan harinya, kaum kafir Quraisy mendatangi perkemahan penduduk Yatsrib untuk memprotes dengan keras adanya perjanjian tersebut kepada para pemimpin rombongan kaum musyrikin Madinah, karena mereka mengetahui bahaya besar dari pertemuan itu bagi mereka. Tentu saja para pemimpin rombongan -karena memang hal tersebut dilakukan dengan sangat rahasia­ menolak mentah-mentah tuduhan orang kafir Quraisy.

Sementara orang-orang muslim, hanya dapat saling memandang satu sama lain, tidak menyangkal dan tidak mengiyakan.

Akhirnya para pemimpin Quraisy membenarkan ucapan pemimpin kaum musyrikin dari Madinah, lalu mereka kembali dengan tangan hampa.

Semoga kisah kali ini tentang baiat aqabah kedua pada zaman Rasulullah ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bermanfaat.

Disadur dari buku: Ar-Raḥīq Al-Makhtūm

Baca Setelahnya…

Baca Sebelumnya…

Ditulis oleh Ustaz Muhammad Thalib, MA
Diambil dari website: mutiaradakwah.com
Share on print
Print Artikel

Berlanggan Artikel Mutiara Dakwah

Berlangganlah secara gratis untuk mendapatkan email artikel terbaru dari situs ini.

Cari Artikel

Generic selectors
Kata yang sama persis
Kata yang ada di judul
Kata yang ada di artikel
Filter Berdasarkan Kategori
Akhlak
Akidah
Al-Qur'an
Bahasa
Fatwa Ulama
Fikih
Hadis
Muamalah
Nasihat
Sirah
Tafsir
Tajwid

Cari Kategori

Sosmed

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on telegram
Telegram
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on email
Email

Tambahkan Komentar

Artikel Terkait

Kisah Baiat Aqabah Pertama
Muhammad Thalib, MA

Kisah Baiat Aqabah Pertama

Baiat Aqabah Pertama Sebagaimana telah disebutkan bahwa ada enam pemuda Madinah yang masuk Islam pada musim haji tahun ke-11 kenabian dan mereka berjanji untuk menyampaikan misi yang dibawa Rasulullah ṣallallāhu

Baca Selengkapnya »
Kisah Rasulullah Isra Mi'raj
Muhammad Thalib, MA

Kisah Rasulullah ﷺ Melakukan Isra Mikraj

Di tengah kesedihan mendalam karena ditinggal orang-orang terdekat, sementara tekanan dari pihak orang Kafir Quraisy kian bertambah. Terjadilah sebuah peristiwa besar yang selalu disebut dalam sejarah, yaitu peristiwa Isra Mikraj

Baca Selengkapnya »

Apakah Anda Ingin Meningkatkan Bisnis Anda?

Tingkatkan dengan cara beriklan

Formulir anda berhasil dikirim, terimakasih

join mutiara dakwah

Subscribe agar anda mendapatkan artikel terbaru dari situs kami

join mutiara dakwah

Subscribe agar anda mendapatkan artikel terbaru dari situs kami

Mengkhatamkan Al-Qur`an Sebulan Sekali Pelajari Adab Sebelum Ilmu Kenapa Kita Harus Belajar Fikih Muamalat? Tata Cara Wudhu Yang Benar Pembagian Tauhid dan Maknanya Hukum Belajar Bahasa Inggris Kisah Rasulullah Hijrah Ke Madinah Mengajak Orang Lain Berbuat Baik, Tapi Lupa Diri Sendiri Hukum Hormat Kepada Bendera Hukum Bertawasul Dengan Amal Saleh Pengertian dan Contoh Mad Muttasil