Kisah Hamzah Dan Umar Bin Khattab Masuk Islam

6 menit waktu membaca

Daftar Isi

Kisah Hamzah Masuk Islam

Di tengah suasana yang masih penuh intimidasi dan tekanan dari orang kafir Quraisy terhadap kaum muslimin, muncullah secercah harapan, yaitu masuk Islamnya Hamzah bin Abdul Muṭalib raḍiyallāhu ‘anhu; paman Rasulullah ﷺ, pada akhir tahun ke-6 kenabian.

Hamzah masuk Islam setelah mendengar berita perlakuan Abu Jahal yang telah menganiaya Rasulullah ﷺ dengan memukulkan sebuah batu ke kepala beliau hingga mengucurkan darah.

Segera saja Hamzah -lelaki gagah dan terpandang di suku Quraisy- yang saat itu baru saja pulang berburu, menemui Abu Jahal untuk menuntut balas atas perlakuan kasar tersebut.

Setelah berhasil menemui Abu Jahal, Hamzah segera menghardiknya:

Wahai Abu Jahal, kamukah yang telah menghina keponakanku padahal aku sudah masuk agamanya?”

Kemudian Abu Jahal dipukulnya dengan busur hingga terluka. Hampir saja terjadi perkelahian massal, karena keluarga kedua belah pihak ingin ikut campur. Namun Abu Jahal segera menghentikan hal tersebut seraya mengakui bahwa dia telah bersikap buruk terhadap Rasulullah ﷺ.

Umar Bin Khattab Masuk Islam

Secercah cahaya yang lain juga muncul dengan masuk Islamnya Umar bin Khattab raḍiyallāhu ‘anhu juga pada tahun ke-6 kenabian, tiga hari setelah masuk Islamnya Hamzah bin Abdul Muṭalib.

Sebelumnya, Rasulullah ﷺ memang pernah memohon kepada Allah Ta’ālā agar dia masuk Islam, dengan doanya:

اللهمَّ أعِزَّ الإسلامَ بأحبِّ الرجُلين إليك؛ بعمرَ بنِ الخطابِ أو بأبي جهلٍ بن هشام

Ya Allah, muliakanlah Islam dengan salah seorang dari dua orang yang lebih Engkau cintai; Umar bin Khattab raḍiyallāhu ‘anhu atau Abu Jahal bin Hisyam

Ternyata yang lebih Allah cintai dari keduanya adalah Umar bin Khattab raḍiyallāhu ‘anhu

Kisah Masuk lslamnya Umar bin Khattab

Umar bin Khattab raḍiyallāhu ‘anhu terkenal sebagai orang yang berwatak keras dan bertubuh tegap. Sering kali pada awalnya (sebelum masuk Islam) kaum muslimin mendapatkan perlakukan kasar darinya. Sebenarnya di dalam hati Umar sering berkecamuk perasaan-perasaan yang berlawanan, antara pengagungannya terhadap ajaran nenek moyang, kesenangan terhadap hiburan dan mabuk-mabukan dengan kekagumannya terhadap   ketabahan kaum muslimin serta bisikan hatinya bahwa boleh jadi apa yang dibawa oleh Islam itu lebih mulia dan lebih baik.

Sampailah kemudian suatu hari, beliau berjalan dengan pedang terhunus untuk segera menghabisi Rasulullah. Namun di tengah jalan, beliau dihadang oleh Abdullah An-Nahham Al-‘Adawi seraya bertanya:

Hendak kemana engkau ya Umar?”

Aku hendak membunuh Muhammad,” jawabnya.

Apakah engkau akan aman dari Bani Hasyim dan Bani Zuhroh jika engkau membunuh Muhammad?”

Jangan-jangan engkau sudah murtad dan meninggalkan agama asalmu?” Tanya Umar.

Maukah engkau ku tunjukkan yang lebih mengagetkan dari itu wahai Umar, sesungguhnya saudara perempuanmu dan iparmu telah murtad dan telah meninggalkan agamamu“, kata Abdullah.

Setelah mendengar hal tersebut, Umar langsung menuju ke rumah adiknya. Saat itu di dalam rumah tersebut terdapat Khabbab bin Art yang sedang mengajarkan al-Quran kepada keduanya (Fatimah, saudara perempuan Umar dan suaminya). Namun ketika Khabbab merasakan kedatangan Umar, dia segera bersembunyi di balik rumah. Sementara Fatimah, segera menutupi lembaran Al­Quran.

Sebelum masuk rumah, rupanya Umar telah mendengar bacaan Khabbab, lalu dia bertanya:

Suara apakah yang tadi saya dengar dari kalian? “,

Tidak ada suara apa-apa kecuali obrolan kami berdua saja“, jawab mereka

Pasti kalian telah murtad“, kata Umar dengan  geram

Wahai Umar, bagaimana pendapatmu jika kebenaran bukan berada pada agamamu?”, jawab ipar Umar.

Mendengar jawaban tersebut, Umar langsung menendangnya dengan keras hingga jatuh dan berdarah. Fatimah segera membangunkan suaminya yang berlumuran darah, namun Fatimah pun ditampar dengan keras hingga wajahnya berdarah, maka berkatalah Fatimah kepada Umar dengan penuh amarah:

“Wahai Umar, jika kebenaran bukan terdapat pada agamamu, maka aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang disembah (ilah) selain Allah, dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah Rasulullah”

Melihat keadaan saudara perempuannya dalam keadaan berdarah, timbul penyesalan dan rasa malu dihati Umar. Lalu dia meminta lembaran Al-Quran tersebut. Namun Fatimah menolaknya seraya mengatakan bahwa Umar najis, dan Al-Quran tidak boleh disentuh kecuali oleh orang-orang yang telah bersuci. Fatimah memerintahkan Umar untuk mandi jika ingin menyentuh mushaf tersebut  dan Umar pun menurutinya.

Setelah mandi, Umar membaca lembaran tersebut, lalu membaca: Bismillahirrahmanirrahim. Kemudian dia berkomentar: “Ini adalah nama-nama yang indah nan suci

Kemudian  beliau  terus  membaca :

 طه

Hingga ayat :

إِنَّنِىٓ أَنَا ٱللَّهُ لَآ إِلَٰهَ إِلَّآ أَنَا۠ فَٱعْبُدْنِى وَأَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَ لِذِكْرِىٓ

Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku” (QS. Thaha : 14)

Beliau berkata :

Betapa indah dan mulianya ucapan ini. Tunjukkan padaku di mana Muhammad” .

Mendengar ucapan tersebut, Khabab bin Art keluar dari balik rumah, seraya berkata: “Bergembiralah wahai Umar, saya berharap bahwa doa Rasulullah pada malam Kamis lalu adalah untukmu, beliau berdoa :

Ya Allah, muliakanlah Islam dengan salah seorang dari dua orang yang lebih Engkau cintai; Umar bin Khattab atau Abu Jahal bin Hisyam”. Rasulullah sekarang berada di sebuah rumah di kaki bukit Shafa’‘ .

Umar bergegas menuju rumah tersebut seraya membawa pedangnya. Tiba disana dia mengetuk pintu. Seseorang yang berada di dalamnya, berupaya mengintipnya lewat celah pintu, dilihatnya Umar bin Khattab raḍiyallāhu ‘anhu datang dengan garang bersama pedangnya. Segera dia beritahu Rasulullah ﷺ dan merekapun berkumpul. Hamzah bertanya:

Ada apa?”.

Umar” Jawab  mereka.

Umar ?! bukakan pintu untuknya, jika dia datang membawa kebaikan, kita sambut. Tapi jika dia datang membawa keburukan, kita bunuh dia dengan pedangnya sendiri“.

Rasulullah memberi isyarat agar Hamzah menemui Umar. Lalu Hamzah segera menemui Umar, dan membawanya menemui Rasulullah ﷺ. Kemudian Rasulullah memegang baju dan gagang pedangnya, lalu ditariknya dengan keras, seraya berkata :

Engkau wahai Umar, akankah engkau terus begini hingga kehinaan dan azab Allah diturunkan kepadamu sebagaimana yang dialami oleh Walid bin Mugirah ?, Ya Allah inilah Umar bin Khattab, Ya Allah, kokohkanlah Islam dengan Umar bin Khattab“.

Maka berkatalah Umar :

Aku bersaksi bahwa tidak ada  Tuhan  yang  disembah  selain  Allah, dan Engkau adalah Rasulullah”

Kesaksian Umar tersebut disambut gema takbir oleh orang­orang yang berada di dalam rumah saat itu, hingga suaranya terdengar ke Masjidil Haram.

Masuk Islamnya Umar menimbulkan kegemparan di kalangan orang-orang musyrik, sebaliknya disambut suka cita oleh kaum muslimin.

Ibnu Mas’ud berkata :

Kami dahulu tidak ada yang berani salat di depan Kakbah hingga Umar masuk Islam

Utusan Kafir Quraisy Menghadap Rasulullah ﷺ

Setelah Hamzah dan Umar bin Khattab raḍiyallāhu ‘anhumā masuk Islam, serta jumlah kaum muslimin semakin banyak, orang kafir Quraisy semakin kalang kabut, upaya mereka untuk menghalangi dakwah Rasulullah ﷺ semakin kehilangan arah.

Salah satu bentuknya adalah upaya mereka dengan mengutus ‘Utbah bin Rabīah menghadap Rasulullah ﷺ untuk menawarkan beberapa tawaran yang menurut mereka dapat menghentikan dakwah beliau.

Utbah yang dikenal dengan panggilan Abu Walid, menyampaikan tawaran tersebut kepada Rasulullah ﷺ; yaitu, jika Rasulullah ﷺ menginginkan harta yang banyak maka mereka akan memberikan kepadanya sehingga Rasulullah ﷺ menjadi orang yang paling kaya raya di antara mereka, dan jika Rasulullah menginginkan kekuasaan, maka mereka akan menjadikan beliau penguasa di antara mereka, namun dengan syarat beliau menghentikan dakwahnya.

Setelah mendengar tawaran yang disampaikan Abul Walid hingga tuntas, Rasulullah ﷺ membaca ayat:

حمٓ

“Haa Miim.”

تَنزِيلٌ مِّنَ ٱلرَّحْمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ

“Diturunkan dari Tuhan Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang”

كِتَٰبٌ فُصِّلَتْ ءَايَٰتُهُۥ قُرْءَانًا عَرَبِيًّا لِّقَوْمٍ يَعْلَمُونَ

Kitab yang dijelaskan ayat-ayatnya, yakni bacaan dalam bahasa Arab, untuk kaum yang mengetahui,”

بَشِيرًا وَنَذِيرًا فَأَعْرَضَ أَكْثَرُهُمْ فَهُمْ لَا يَسْمَعُونَ

“Yang membawa berita gembira dan yang membawa peringatan, tetapi kebanyakan mereka berpaling, tidak mau mendengarkan.”

وَقَالُوا۟ قُلُوبُنَا فِىٓ أَكِنَّةٍ مِّمَّا تَدْعُونَآ إِلَيْهِ

Mereka berkata: “Hati kami berada dalam tutupan (yang menutupi) apa yang kamu seru kami kepadanya…

(QS. Fushshilat : 1-5)

Akhirnya Abul Walid kembali menemui kaumnya dengan membawa kegagalan, bahkan justru dia terkagum-kagum dengan ayat-ayat yang telah dibaca Rasulullah ﷺ, sehingga kaumnya menuduh Rasulullah telah menyihirnya.

Disadur dari buku: Ar-Raḥīq Al-Makhtūm

Baca Selanjutnya…

Baca Sebelumnya…

Ditulis oleh ustaz Muhammad Thalib, MA
Diambil dari website: mutiaradakwah.com

Berlanggan Artikel Mutiara Dakwah

Berlangganlah secara gratis untuk mendapatkan email artikel terbaru dari situs isi.

Share on print
Print Artikel

Cari Artikel

Generic selectors
Kata yang sama persis
Kata yang ada di judul
Kata yang ada di artikel
Filter Berdasarkan Kategori
Akidah
Al-Qur'an
Fatwa Ulama
Fikih
Hadis
Muamalah
Sirah
Tafsir
Tajwid

Cari Kategori

Artikel Terkait

Kisah Rasulullah Isra Mi'raj
Muhammad Thalib, MA

Kisah Rasulullah ﷺ Melakukan Isra Mikraj

Di tengah kesedihan mendalam karena ditinggal orang-orang terdekat, sementara tekanan dari pihak orang Kafir Quraisy kian bertambah. Terjadilah sebuah peristiwa besar yang selalu disebut dalam sejarah, yaitu peristiwa Isra Mikraj

Baca Selengkapnya »

Stories

Apakah Anda Ingin Meningkatkan Bisnis Anda?

tingkatkan dengan cara beriklan

Formulir anda berhasil dikirim, terimakasih

join mutiara dakwah

Subscribe agar anda mendapatkan artikel terbaru dari situs kami

join mutiara dakwah

Subscribe agar anda mendapatkan artikel terbaru dari situs kami

Dilema Pemotongan Zakat Gaji ASN