Siapakah Wali-Wali Allah Itu?

3 menit waktu membaca

Daftar Isi

Wali-Wali Allah

Orang-orang mukmin semuanya adalah wali Allah: “Allah adalah wali orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Baqarah: 257).

Orang yang paling mulia di sisi-Nya adalah orang yang paling bertakwa: “Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa.” (QS. Al-Ḥujurāt: 13)

Siapa yang bertakwa kepada Allah maka dia adalah wali Allah. Kewalian mereka kepada Allah adalah dengan menaati dan mencintai-Nya, sementara kewalian-Nya kepada mereka adalah dengan kecintaan dan kebaikan-Nya kepada mereka.

Jasa Pembuatan Website
Jasa Pembuatan Website

1. Wali

Dia adalah setiap orang beriman dan bertakwa. Allah Ta’ālā berfirman, “Ingatlah wali-wali Allah itu, tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan senantiasa bertakwa.” (QS. Yūnus: 62-63)

Tingkatan mereka dalam kewalian adalah berdasarkan tingkatan mereka dalam keimanan dan ketakwaan, bukan karena nasab ataupun klaim. Allah Ta’ālā berfirman, “Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti.” (QS. Al-Ḥujurāt: 13)

2. Karāmah

Karāmah (keramat) adalah suatu kejadian luar biasa yang Allah munculkan melalui salah seorang wali-Nya, untuk memuliakannya sekaligus untuk membenarkan Nabi yang diikutinya. Karāmah ini ada dua macam:

  • Pertama, dalam ilmu, kasyf (melihat hal gaib), firasat, dan ilham.
  • Kedua, dalam kekuatan, dan pengaruh.

Karāmah terjadi untuk wali-wali Allah pada umat terdahulu, generasi pertama umat ini dari kalangan sahabat dan tabiin, dan generasi lain yang akan datang sampai hari kiamat.

Usul-Usul Komprehensif Dalam Ta`Ṣīl (Kajian Agama) Dan Istidlāl (Pendalilan)

1. Usul-usul komprehensif

Masalah akidah, syariah, dan suluk diambil dari tiga sumber yaitu Kitab (Al-Qur`ān), Sunnah yang sahih, dan Ijmak yang baku. Ini semua tidak bisa ditentang dengan pendapat, kias, perasaan, kasyf, atau ucapan siapa pun juga.

2. Jalan untuk memahami Kitab dan Sunnah

Jalannya adalah jalan yang ditempuh orang-orang terdahulu dari kalangan Muhajirin, Ansar, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, serta berpaling dari jalan-jalan bidah yang dibuat-buat oleh para teolog dan sufi. Allah Ta’ālā berfirman,

“Dan barang siapa menentang Rasul (Muhammad) setelah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan dia dalam kesesatan yang telah dilakukannya itu dan akan Kami masukkan dia ke dalam neraka Jahanam, dan itu seburuk-buruk tempat kembali.” (QS. An-Nisā`: 115)

3. Akal sehat

Akal yang selamat dari syubhat dan syahwat tidak akan menentang naql (wahyu) yang sahih, yang selamat dari ilat-ilat yang merusak. Nas-nas wahyu bisa jadi datang dengan sesuatu yang membuat akal tercengang, tetapi nas-nas tersebut tidak mungkin membawa sesuatu yang mustahil menurut akal. Orang yang mengira ada pertentangan antara keduanya maka itu adalah karena kerusakan akalnya. Oleh karena itu, dia harus mendahulukan naql (wahyu) di atas akal.

4. Bidah

Bidah adalah sesuatu yang baru dalam agama. Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa yang membuat suatu yang baru dalam urusan (agama) kami ini yang tidak ada dasarnya darinya maka perbuatannya itu tertolak.” (Muttafaq ‘alaihi)[1] Dalam redaksi Muslim dan juga Bukhari secara ta’līq yang tegas disebutkan, “Siapa yang mengerjakan suatu amalan yang bukan bersumber dari perintah kami maka amalan itu tertolak.”[2]

Bidah itu banyak macamnya:

  1. Bidah Akidah, seperti pemahaman Syiah, Khawarij, Qadariyyah, dan Murji`ah.
  2. Bidah Amaliah, seperti kependetaan, dan tarekat-tarekat.
  3. Bidah Asli, seperti maulid, dan zikir-zikir yang dibuat-buat.
  4. Bidah Iḍāfiyyah (tambahan). Bidah ini masuk ke dalam ibadah terkait sebab, jenis, ukuran, cara, waktu, ataupun tempatnya.
  5. Bidah Mugallaẓah (berat), seperti syirik dan macam-macamnya.
  6. Bidah Mukhaffafah (ringan), seperti zikir berjamaah.
  7. Bidah Mukaffirah (menyebabkan kekafiran), seperti menafikan sifat-sifat Allah.
  8. Bidah Mufassiqah (menyebabkan kefasikan), seperti mendengarkan sesuatu yang haram.

Baca Sebelumnya…

Catatan Kaki

Catatan Kaki
1 HR. Bukhari nomor 2697, dan Muslim nomor 1718 dari hadis Aisyah raḍiyallāhu ‘anhā.
2 HR. Bukhari secara ta’līq dengan pasti sebelum hadis nomor 2142, dan nomor 7350, dan Muslim nomor 1718 dari hadis Aisyah raḍiyallāhu ‘anhā.
Ditulis oleh Ustaz Muhammad Thalib, MA
Diambil dari website: mutiaradakwah.com
Share on print
Print Artikel

Berlanggan Artikel Mutiara Dakwah

Berlangganlah secara gratis untuk mendapatkan email artikel terbaru dari situs ini.

Cari Artikel

Generic selectors
Kata yang sama persis
Kata yang ada di judul
Kata yang ada di artikel
Filter Berdasarkan Kategori
Akhlak
Akidah
Al-Qur'an
Bahasa
Fatwa Ulama
Fikih
Hadis
Muamalah
Nasihat
Sirah
Tafsir
Tajwid

Cari Kategori

Artikel Terkait

Imamah, Jemaah, dan Sahabat
Muhammad Thalib, MA

Imamah, Jemaah, dan Sahabat

IMAMAH (KEPEMIMPINAN) DAN JEMAAH Umat Islam adalah umat yang satu. Urusan mereka tidak bisa lurus dan baik serta tidak bisa tercapai misinya kecuali dengan beberapa hal berikut ini: 1. Kewajiban

Baca Selengkapnya »
Apa Saja Hakikat Iman?
Muhammad Thalib, MA

Apa Saja Hakikat Iman?

Hakikat Iman Allah Ta’ālā berfirman, “Sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetar hatinya, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, bertambah (kuat) imannya dan hanya kepada

Baca Selengkapnya »

Stories

Apakah Anda Ingin Meningkatkan Bisnis Anda?

Tingkatkan dengan cara beriklan

Formulir anda berhasil dikirim, terimakasih

join mutiara dakwah

Subscribe agar anda mendapatkan artikel terbaru dari situs kami

join mutiara dakwah

Subscribe agar anda mendapatkan artikel terbaru dari situs kami

Tafsir Surah As-Shaff Ayat 1-4 Penyebab Turunnya Surah Al-Kahfi Tuntunan Penyembelihan Hewan Kurban Siapakah Wali-Wali Allah Itu? Anda Ingin Sukses? Persiapkan Diri Menghadapi Ujian Pengertian Riba dan Macam Macamnya Hukum Berkurban Secara Kolektif Imamah, Jemaah, Dan Sahabat Berkasih Sayang Dengan Binatang Tema-Tema Surah Al-Kahfi