Tafsir Surah As-Shaff Ayat 5-6

7 menit waktu membaca

Daftar Isi

Setelah sebelumnya kita membahas tafsir Surah As-Shaff pada ayat 1-4, kali ini kita akan membahas tafsir Surah As-Shaff pada ayat 5 dan ayat 6.

Ayat dan Artinya

وَإِذْ قَالَ مُوسَىٰ لِقَوْمِهِۦ يَٰقَوْمِ لِمَ تُؤْذُونَنِى وَقَد تَّعْلَمُونَ أَنِّى رَسُولُ ٱللَّهِ إِلَيْكُمْ ۖ فَلَمَّا زَاغُوٓا۟ أَزَاغَ ٱللَّهُ قُلُوبَهُمْ ۚ وَٱللَّهُ لَا يَهْدِى ٱلْقَوْمَ ٱلْفَٰسِقِينَ

Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada kaumnya: “Hai kaumku, mengapa kamu menyakitiku, sedang kamu mengetahui bahwa sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu?” Maka tatkala mereka berpaling (dari kebenaran), Allah memalingkan hati mereka; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang fasik.

وَإِذْ قَالَ عِيسَى ٱبْنُ مَرْيَمَ يَٰبَنِىٓ إِسْرَٰٓءِيلَ إِنِّى رَسُولُ ٱللَّهِ إِلَيْكُم مُّصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَىَّ مِنَ ٱلتَّوْرَىٰةِ وَمُبَشِّرًۢا بِرَسُولٍ يَأْتِى مِنۢ بَعْدِى ٱسْمُهُۥٓ أَحْمَدُ ۖ فَلَمَّا جَآءَهُم بِٱلْبَيِّنَٰتِ قَالُوا۟ هَٰذَا سِحْرٌ مُّبِينٌ

Dan (ingatlah) ketika Isa putra Maryam berkata: “Hai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab (yang turun) sebelumku, yaitu Taurat, dan memberi kabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad)”. Maka tatkala rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata: “Ini adalah sihir yang nyata.”

Tafsirnya

Tafsir Ayat 5

Allah Subḥānahu wa Ta’ālā berfirman, memberitakan tentang hamba, Rasul dan Kalim-Nya, Musa bin ‘Imrān ‘alaihissalām . Musa berkata kepada kaumnya: “Mengapa kamu menyakitiku, sedang kamu mengetahui bahwa sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu?” Maksudnya, mengapa kalian selalu menyakitiku padahal kalian tahu bahwa aku telah berkata jujur tentang risalah yang aku bawa kepada kalian. Ini merupakan hiburan bagi Rasulullah, Muhammad ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam atas apa yang menimpa kalian dari orang-orang kafir di antara kaumnya ataupun yang lainnya. Dalam ayat ini juga terdapat perintah kepada Rasulullah ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam untuk bersabar dan larangan terhadap orang-orang beriman untuk menyakiti Nabi mereka, sebagaimana difirmankan Allah ‘Azza wa Jalla  berikut ini:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا تَكُونُوا۟ كَٱلَّذِينَ ءَاذَوْا۟ مُوسَىٰ فَبَرَّأَهُ ٱللَّهُ مِمَّا قَالُوا۟ ۚ وَكَانَ عِندَ ٱللَّهِ وَجِيهًا

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang menyakiti Musa. Maka Allah membersihkannya dari tuduhan-tuduhan yang mereka katakan. Dan adalah dia seorang yang mempunyai kedudukan terhormat di sisi Allah.” (QS. Al-Aḥzāb: 69).

Firman Allah Ta’ālā selanjutnya, “Maka tatkala mereka berpaling (dari kebenaran), Allah memalingkan hati mereka.” Maksudnya, ketika mereka berpaling dari mengikuti kebenaran padahal mereka mengetahuinya, maka Allah memalingkan hati mereka dari petunjuk dan menanamkan dalam hati mereka keraguan, kebingunan, dan kehinaan. Oleh karena itu, Allah Ta’ālā berfirman, “Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang fasik.”

Tafsir Ayat 6

Dan firman-Nya:

Dan (ingatlah) ketika Isa putra Maryam berkata: ‘Hai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab (yang turun) sebelumku, yaitu Taurat, dan memberi kabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad).’” Yakni Taurat, telah menyampaikan kabar gembira tentang diriku dan aku sesuai dengan apa yang disampaikannya. Sedang aku menyampaikan kabar gembira tentang kedatangan orang setelahku, yakni seorang Rasul sekaligus Nabi yang ummi dari Arab Makkah bernama Ahmad (Muhammad). Dengan demikian, ‘Isa putra Maryam ‘alaihimassalām adalah penutup Nabi-Nabi Bani Israil. Dia telah bermukim di kalangan Bani Israil untuk menyampaikan kabar gembira tentang kedatangan Muhammad ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam, yaitu Ahmad sebagai penutup semua Nabi dan Rasul yang tidak ada risalah dan kenabian lagi setelahnya.

Betapa baiknya sebuah hadis yang telah diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari: Abul Yaman memberitahu kami, Syu’aib memberitahu kami, dari Az-Zuhri, ia berkata, Muhammad bin Jubair bin Muṭ’im telah memberitahuku, dari ayahnya, ia menuturkan, aku pernah mendengar Rasulullah bersabda:

إنَّ لي أسْماءً، أنا مُحَمَّدٌ، وأنا أحْمَدُ، وأنا الماحِي الذي يَمْحُو اللَّهُ بيَ الكُفْرَ، وأنا الحاشِرُ الذي يُحْشَرُ النّاسُ على قَدَمِي، وأنا العاقِبُ

Sesungguhnya aku mempunyai beberapa nama. Aku adalah Muhammad, aku juga Ahmad dan aku adalah Al-Māhi (penghapus) yang dengannya Allah menghapuskan kekufuran, dan aku adalah Al-Hāsyir (pengumpul), dimana umat manusia akan dikumpulkan di hadapan kedua kakiku, dan aku adalah Al-‘Āqib (penutup).”

Hadis senada juga diriwayatkan oleh Muslim dari Az-Zuhri.

Abu Dawud AṬ-Ṭayalisi meriwayatkan dari Abu Musa, bahwasanya Rasulullah ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam pernah menyebutkan beberapa nama untuk dirinya kepada kami, ada sebagian yang kami hafal, beliau bersabda:

أنا مُحمَّدٌ، وأنا أحمَدُ، والحاشِرُ، والمُقَفّى، ونَبيُّ الرَّحْمةِ والتوبة والمَلحمةِ

Aku adalah Muhammad, Ahmad, Al-Hāsyir (pengumpul), Al-Muqaffa (penutup para Nabi), Nabiyyurraḥmah wat Taubah wal Malhamah (Nabi pembawa rahmat, taubat dan peperangan).”

Hadis ini diriwayatkan pula oleh Muslim dari Al-A’masy, dari ‘Amr bin Murrah.

Allah Ta’ālā berfirman:

ٱلَّذِينَ يَتَّبِعُونَ ٱلرَّسُولَ ٱلنَّبِىَّ ٱلْأُمِّىَّ ٱلَّذِى يَجِدُونَهُۥ مَكْتُوبًا عِندَهُمْ فِى ٱلتَّوْرَىٰةِ وَٱلْإِنجِيلِ

“(Yaitu) orang-orang yang mengikuti Rasul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di şisi mereka,” dan ayat seterusnya. (QS. Al-A’rāf: 157).

Dan Dia juga berfirman:

وَإِذْ أَخَذَ ٱللَّهُ مِيثَٰقَ ٱلنَّبِيِّۦنَ لَمَآ ءَاتَيْتُكُم مِّن كِتَٰبٍ وَحِكْمَةٍ ثُمَّ جَآءَكُمْ رَسُولٌ مُّصَدِّقٌ لِّمَا مَعَكُمْ لَتُؤْمِنُنَّ بِهِۦ وَلَتَنصُرُنَّهُۥ ۚ قَالَ ءَأَقْرَرْتُمْ وَأَخَذْتُمْ عَلَىٰ ذَٰلِكُمْ إِصْرِى ۖ قَالُوٓا۟ أَقْرَرْنَا ۚ قَالَ فَٱشْهَدُوا۟ وَأَنَا۠ مَعَكُم مِّنَ ٱلشَّٰهِدِينَ

Dan ingatlah ketika Allah mengambil perjanjian dari para Nabi: ‘Sungguh, apa saja yang Aku berikan kepadamu berupa Kitab dan Hikmah, kemudian datang kepadamu seorang Rasul yang membenarkan apa yang ada padamu, niscaya kamu akan sungguh-sungguh beriman kepadanya dan menolongnya.’ Allah berfirman: ‘Apakah kamu mengakui dan menerima perjanjian-Ku terhadap yang demikian itu?’ Mereka menjawab: ‘Kami mengakui. ‘ Allah berfirman: ‘Kalau begitu saksikanlah (wahai para Nabi) dan Aku menjadi saksi pula bersamamu.‘” (QS. Ali Imran: 81).

Ibnu ‘Abbas mengatakan: “Tidaklah Allah mengutus seorang Nabi melainkan Dia mengambil perjanjian bahwa jika Muhammad diutus-Nya nanti sedang dia masih hidup, maka hendaklah dia mengikutinya. Dan juga mengambil perjanjian darinya agar dia mengambil perjanjian dari ummatnya bahwa jika Muhammad diutus nanti sedang mereka masih hidup, maka mereka harus mengikuti dan menolongnya.”

Muhammad bin Ishaq menururkan, Aṡ-Ṡaur bin Yazid memberitahuku dari Khalid bin Ma’dan dari para Sahabat Rasulullah ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam, bahwasanya mereka berkata: “Ya Rasulullah, beritahukan kepada kami tentang dirimu.” Beliau menjawab:

دعوةُ أبي إبراهيمَ وبُشرى عيسى ورأت أمي حين حَمَلَتْ بي كأنه خرج منها نورٌ أضاءتْ له قصور بُصرى من أرضِ الشامِ

Doa bapakku, Ibrahim, kabar gembira oleh Isa, dan ibuku bermimpi ketika tengah mengandung diriku bahwa beliau melihat seolah-olah keluar darinya cahaya yang karenanya bersinar gemerlap istana-istana Baṣra dari bumi Syam.”

Isnad hadis ini jayyid, mempunyai beberapa syahid dari jalur yang lain.

Imam Ahmad meriwayatkan dari ‘Abdullah bin Mas’ud, ia menuturkan: “Rasulullah ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam pernah mengutus kami kepada Raja Najasyi, sedang kami berjumlah sekitar delapan puluh orang, yang di antaranya adalah ‘Abdullah bin Mas’ud, Ja’far, ‘Abdullah bin Rawahah, ‘Uṡman bin Mazh’un, dan Abu Musa, mereka pun mendatangi Raja Najasyi sedang kaum Quraisy mengutus ‘Amr bin Al-‘Ash dan Imarah bin Al-Walid dengan membawa hadiah. Ketika memasuki Najasyi, keduanya bersujud kepadanya, lalu segera mendatanginya dari sebelah kanan dan kirinya. Setelah itu keduanya berkata kepadanya: ‘Sesungguhnya ada beberapa orang dari Bani paman kami bertempat tinggal di wilayahmu, mereka tidak suka kepada kami dan juga agama kami.’ Najasyi bertanya: ‘Lalu di manakah mereka itu?’ Keduanya menjawab: ‘Mereka berada di wilayahmu. Oleh karena itu, kirimlah utusan kepada mereka.’ Lálu dia pun mengirim utusan kepada mereka. Ja’far berkata: ‘Akulah juru bicara kalian pada hari ini,’ maka mereka pun mengikutinya. Tatkala memberi salam kepadanya, dia tidak bersujud. Maka mereka berkata kepadanya: ‘Mengapa engkau tidak bersujud kepada sang raja?’ Dia menjawab: ‘Sesungguhnya kami tidak bersujud kecuali kepada Allah Yang Mahaperkasa lagi Mahamulia.’ Najasyi pun bertanya: ‘Lalu apakah itu?’ Dia menjawab: ‘Sesungguhnya Allah telah mengutus Rasul-Nya kepada kita semua. Dia memerintahkan kita semua untuk tidak bersujud kecuali hanya kepada Allah Yang Mahaperkasa lagi Mahamulia. Dia juga menyuruh kita mengerjakan salat dan menunaikan zakat.’ Amr bin Al-‘Ash berkata: ‘Sesungguhnya mereka berbeda denganmu dalam masalah Isa putra Maryam’. Najasyi bertanya: ‘Bagaimana pendapat kalian tentang Isa putera Maryam dan ibunya?’ Dia menjawab: ‘Kami ber- pendapat seperti yang difirmankan oleh Allah Yang Mahaperkasa lagi Mahamulia. Isa adalah kalimat dan ruh Allah yang dimasukkan ke dalam diri seorang wanita perawan yang tidak pernah disentuh oleh seorang laki-laki mana pun dan belum pernah melahirkan anak.’ Kemudian dia mengangkat sebatang kayu dari tanah dan selanjutnya berkata: ‘Wahai sekalian bangsa Habasyah (Ethiopia), para pendeta dan rahib! Demi Allah, mereka tidak berlebihan terhadap apa yang kita anut, ini benar-benar sama. Selamat datang kepada kalian dan juga kepada orang yang mengutus kalian. Aku bersaksi bahwa dia adalah Rasul Allah dan dialah yang kita dapatkan dalam Injil, dan dia pula yang pernah disampaikan oleh Isa putra Maryam kepada kita. Tinggallah kalian di mana saja kalian suka. Demi Allah, seandainya aku tidak sedang mengurus kerajaan, niscaya aku akan mendatanginya sehingga aku bisa membawakan kedua sandal beliau, dan menyiapkan air wudu beliau.’ Maka dia pun memerintahkan supaya hadiah kedua orang tersebut dikembalikan. Kemudian ‘Abdullah bin Mas’ud segera kembali, sehingga ia termasuk orang yang ikut serta dalam Perang Badar.”

Maksudnya, para nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam tetap selalu menyebutkan sifat-sifatnya di dalam kitab-kitab mereka yang diturunkan kepada ummatnya masing- masing. Serta mereka memerintahkan untuk mentaatinya, menolong dan mendukungnya bila telah diutus. Dan perkara ini menjadi masyhur di kalangan penduduk bumi melalui lisan Nabi Ibrahim, bapak para Nabi sesudahnya, ketika dia berdoa bagi penduduk Makkah, semoga Allah Ta’ālā mengutus seorang Rasul dari kalangan mereka sendiri. Demikian juga yang disampaikan melalui lisan Isa putra Maryam.

Dan firman Allah Ta’ālā, “Maka tatkala rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata: ‘Ini adalah sihir yang nyata.’” Ibnu Juraij dan Ibnu Jarir berkata mengenai firman-Nya, “Maka tatkala Rasul itu datang kepada mereka,” yaitu Ahmad, yakni Rasul yang telah diberitakan dan disebutkan kedatangannya pada kurun dan masa-masa terdahulu. Setelah beliau hadir dan datang dengan membawa keterangan yang nyata, para penentang dan juga orang-orang kafir itu mengatakan, “Ini adalah sihir yang nyata”.

Sumber: Tafsir Ibnu Katsir.

Semoga artikel kali ini tentang tafsir Surah Aṡ-Ṡaff pada ayat 5 dan 6 bermanfaat.

Ditulis oleh Ustaz Muhammad Thalib, MA
Diambil dari website: mutiaradakwah.com
Share on print
Print Artikel

Berlanggan Artikel Mutiara Dakwah

Berlangganlah secara gratis untuk mendapatkan email artikel terbaru dari situs ini.

Cari Artikel

Generic selectors
Kata yang sama persis
Kata yang ada di judul
Kata yang ada di artikel
Filter Berdasarkan Kategori
Akhlak
Akidah
Al-Qur'an
Bahasa
Fatwa Ulama
Fikih
Hadis
Muamalah
Nasihat
Sirah
Tafsir
Tajwid

Cari Kategori

Sosmed

Tambahkan Komentar

Artikel Terkait

Tafsir Surah As-Shaff Ayat 7-9
Muhammad Thalib, MA

Tafsir Surah As-Shaff Ayat 7-9

Setelah sebelumnya kita membahas tafsir Surah As-Shaff pada ayat 1-4 dan juga tafsir Surah As-Shaff pada ayat 5-6, kali ini kita akan membahas tafsir Surah As-Shaff pada ayat 7 sampai

Baca Selengkapnya »
Tafsir Surah As-Shaff 1-4
Muhammad Thalib, MA

Tafsir Surah As-Shaff Ayat 1-4

Imam Ahmad meriwayatkan dari Abdullah bin Salam, ia menuturkan: “Kami pernah berembuk, siapakah di antara kalian yang bersedia datang kepada Rasulullah ﷺ untuk menanyakan kepada beliau tentang amal apakah ada

Baca Selengkapnya »
Tafsir Surat Al-Munafiqun 9-11
Muhammad Thalib, MA

Tafsir Surah Al-Munafiqun 9-11

Pada pembahasan sebelumnya, kita telah membahas tafsir surah Al-Munāfiqūn pada ayat 1-4, dan juga ayat 5-8. Kali ini kita akan membahas tafsir beberapa ayat pada akhir surah Al-Munāfiqūn, yaitu ayat

Baca Selengkapnya »

Stories

Apakah Anda Ingin Meningkatkan Bisnis Anda?

Tingkatkan dengan cara beriklan

Formulir anda berhasil dikirim, terimakasih

join mutiara dakwah

Subscribe agar anda mendapatkan artikel terbaru dari situs kami

join mutiara dakwah

Subscribe agar anda mendapatkan artikel terbaru dari situs kami

Kenapa Kita Harus Belajar Fikih Muamalat? Tata Cara Wudhu Yang Benar Pembagian Tauhid dan Maknanya Hukum Belajar Bahasa Inggris Kisah Rasulullah Hijrah Ke Madinah Mengajak Orang Lain Berbuat Baik, Tapi Lupa Diri Sendiri Hukum Hormat Kepada Bendera Hukum Bertawasul Dengan Amal Saleh Pengertian dan Contoh Mad Muttasil Tafsir Surah As-Shaff Ayat 7-9 5 Adab Membaca Alquran